Kajian Batik Kawung II

Tugas Uas Filsafat ( Prof. Drs. Jakobus Sumardjo )

Pemberian nama serta makna dalam motif kawung memiliki beberapa konsep yang melatar belakangi, diantaranya:

Konsep pertama:

Adanya faham animisme, yaitu sebuah wawasan masyarakat Jawa kuno tentang pemahaman alam dan yang diketahui melalui sejarah jaman nenek moyang. Masyarakat Jawa menempatkan alam (mikrokosmos) bersama-sama dengan pemahaman alam (makro-kosmos) . Masyarakat Jawa percaya dan memiliki keyakinan terhadap hal titisan dewa,serta percaya adanya roh-roh nenek moyang menyebabkan terjadinya proses-proses alam yang diakibatkan olehnya, sehingga perlu adanya keseimbangan antara mikro-kosmos dan makro-kosmos dengan jalan   mengadakan persembahan kepadanya. Masyarakat Jawa percaya bahwa manusia memiliki jiwa yang dapat meninggalkan tempatnya serta dapat  memasuki makhluk atau dunia lain.

Jiwa manusia merupakan pelaku aktivitas spiritual yang dapat mencapai taraf tertentu atau yang paling tinggi tergantung dari manusianya. Persoalan kematian bagi masyarakat Jawa inilah menjadi konsep keberlanjutan hidup dan kekekalan yang diyakini selalu ada serta harus dijalankan.Wund dan Spencer mengatakan bahwa produk psikologis yang tak terelakkan dari kesadaran tersebut menciptakan mitos (Freud, 1918: 124).Bagi masyarakat Jawa produk psikologis yang difahami membentuk sebuah kepercayaan bahwa roh raja akan selalu menjadi dewa-dewa dialam lain (maya-padya), sehingga adatkebiasaan serta berbusana raja dimadya-akan selalu termanifestasikan ke dalam busana para dewa dewa.

Konsep kedua :

Konsep kedua, adanya paham dinamisme yang menganggap bahwa roh-roh nenek moyang ada di dalam benda-benda mati, sehingga benda benda mati memiliki kekuatan kekuatan magis serta  dapat dimanfaatkan oleh manusia sesuai tujuan dan harapannya. Adapun tujuan sangatlah beragam, misalnya ada yang dimanfaatkan untuk tujuan kebaikan, dan ada juga yang memiliki tujuan untuk kejahatan.

Kedua tujuan ini tidak dapat dipisahkan serta saling menyatu dalam kehidupan. Menurut Levi Strauss  (Ahimsa, 2000: 70-71) , konsep oposisi dinamakan binary oposition, yaitu sebuah konsep oposisi yang berpasangan, misalnya ada siang dan malam, ada gelap dan terang, ada hitam dan putih. Dalam cerita pewayangan, konsep tersebut selalu menyertai dalam berbagai hal serta kehidupan masyarakat Jawa, juga keyakinan akan magis yang selalu ada di dalam benda magis seperti keris dengan berbagai pamornya dan benda lainnya dapat dilihat dalam konsep pembuatan motif kawung. Misalnya Kawung Sari, Kawung Sekar Ageng, Kawung Kembang, kesemuanya dimaksudkan adanya kekuatan magis, sehingga yang memakai mengharapkan dapat tercapai tujuan yang diinginkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s