Fenomenologi Seniman Indonesia dalam Karya Seni

Tugas Uas Filsafat Ilmu ( Benni Yohanes, S.Sen, M.Hum )

Dalam berkarya, seniman  menggabungkan kreatifitas, fisologis dan tekstual sehingga menghasilkan sebuah estetika migrasi. Adapun sebelum melangkah menuju prosesi berkarya, dapat disimak bagan berikut dibawah ini :

Pada Bidang A1-B1, C1-C2 ; Sublimasi Budaya sebagai Strategi Mengindonesia , Melakukan sintesis  pemahaman antara sikap filosofis seniman yang menghasilkan pemahaman sublimatif budaya asal, dimana sublimasi itu dilihat sebagai modus produksi budaya yang terbentuk dari strategi praktik dalam arena keindonesiaan.

Pada Bidang  A2-B2, C3-C4 ; Estetika Migrasi sebagai Identitas Keindonesiaan , Melakukan teorisasi kreativitas seni sebagai bentuk estetika migrasi, yang telah memberi pengaruh dalam membentuk identitas keindonesiaan, dimana konsep estetika migrasi tersebut merupakan respon terhadap habitus melalui penggunaan kapital simbolik yang dimiliki seniman sebagai seniman modern Indonesia.

Dialektika yang terjadi pada seniman, terutama penggabungan ego ekletikisme sebagai visualisasi estetika bersumber pada sebuah kategori fundamental dalam pemikiran eksistensialisme, menjelaskan suatu fondasi ontologisme melandasi keberadaan mahluk atau objek-objek sehingga Ada ( Being ).

Migrasi fisik yang terjadi merupakan perkembangan seniman sebagai representasi atas pengalaman objektivikasi  komodifikasi karya seni. Proses objektivikasi ini melibatkan hubungan diantara subjek ( yang dalam hal ini adalah manusia, dan biasanya bersifat kolektif ), kebudayaan sebagai bentuk eksternal dan artefak sebagai objek ciptaan manusia.

Dalam kaitan ini, subyek mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaan objek-objek, yang dimaksudkan untuk menciptakan diferensiasi ( penciptaan perbedaan objek-objek sebelumnya ) dan kemudian menginternalisasikan ( mengembalikan pada diri ) nilai-nilai ciptaan tersebut melalui proses sublasi atau pemberian pengakuan ( Ada – Being ).

Proses sublasi ini sang subjek selalu merasa tidak puas dengan hasil ciptaannya sendiri. Oleh karena itu, ia selalu membandingkan hasil karyanya dengan pengetahuan dan nilai absolute, yang justru beranjak lebih jauh tatkala ia didekati.

Adalah rasa ketidakpuasan abadi terhadap hasil karya yang membangkitkan motivasi dan daya yang tak habis-habisnya bagi pengembangan lebih lanjut dalam suatu dialektika penciptaan.

Konkretisasi ontology epistemic yang direfleksikan  menjadi estetika logika,presentasional structural yang direfleksikan pula menjadi intertekstual linguistic, serta sejarah ideology sebagai response perilaku psikologis semua tidak dapat terlepas dari gaya individu walaupun ia telah melalui migrasi fisik.

Gaya individu merupakan perpaduan elemen- elemen formal dan tematik secara khusus sekaligus merupakan wacana ideology. Dimana individu dapat mengekspresikan cara mereka mengkaitkan kehidupan mereka dengan kondisi eksistensi mereka. Ideologi visual berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dari gaya suatu kelompok social. Menyiratkan adanya perjuangan kelas yang abadi melalui visual.

Gaya melalui peranannya bersifat pluralistic dan indeterminan, merupakan suatu bentuk sinkretisme, yaitu penyerapan berbagai elemen gaya yang berasal dari berbagai seniman, kebudayaan, periode, atau ideology yang berbeda, bahkan bersifat kontradiktif satu sama lainnya menjadi satu ramuan gaya baru.

PEMBAHASAN

Keterkaitan teori fenomenologis seniman adalah antara Ontologi Migratif,  Realisasi Dasein, dan hubungan migrasi fisik  dan migrasi identitas seniman dalam intrepretasi data sehingga memunculkan analisis data dalam teori produktivitas budaya di Indonesia.

Visualisasi produktivitas budaya adalah berupa karya seni yang terdapat di dalamnya suatu objek sebagai hasil migrasi dari seniman sebagai identitas dirinya. Karya seni  pada khususnya terdapat kebebasan untuk berkarya melawan kecenderungan alamiah dari material dan teknik, jika mereka menginginkannya demikian.

Seniman sebagai ‘ orang tengah ‘ sosok yang memediasi antara penghasil karya dan public. Kebebasan kreatif seniman terbatasi oleh serangkaian prakondisi dan batasan – batasan financial, teknis, temporal, estetis yang ditimpakan oleh klien dan pasar.

Mendukung figuritas  seniman sebagai ideology individualism adalah konsepsi simplisitis mengenai subyek manusia ; satu obyek penyatu yang entah bagaimana berkembang dan berfungsi secara terpisah atau bahkan beroposisi terhadap masyarakat.

Pandangan Marxisme menarik perhatian determinan ekonomi dan ideologis perilaku serta pemikiran manusia; psikoanalisis memperlihatkan bahwa fikiran seniman dalam hal ini manusia terbagi ( sadar dan tidak sadar ), dikuasai beragam dorongan tersembunyi dari berbagai kompleks.

Salah satu efek samping negative ideology individualism adalah mengaburkan sifat dasar social produksi seni dan desain. Para seniman sudah sering dikatakan sebagai pemberontak artikepal terhadap masyarakat. Sama absurdnya dengan perkembangan bahasa untuk diidentifikasi dalam menilai sebuah karya seni.

Perkembangan  karya seni bersifat social dapat ditinjau dengan alasan sebagai berikut :

  • Seniman memiliki keuntungan pendidikan di akademisi desain dan teknik yang disediakan oleh masyarakat secara keseluruhan
  • Pengaruh kontemporer ( beberapa seniman melepaskan diri dari pengaruh kelompok tertentu atau trend dan gaya mutakhir )
  • Kekuatan tradisi dan panutan ( karya seni baru selalu bergantung dalam beberapa taraf, pada akumulasi pengetahuan dan pencapaian generasi-generasi pertama )
  • Karakter social ‘ bahasa ‘ seniman, kode dan gaya ( merupakan produk kelompok, mereka berkembang selama berabad-abad)
  • Kebergantungan seniman terhadap klien dapat terjadi dan konsumen tanpanya produksi berskala besar akan mustahil dilakukan.

Selain kuatnya sindrom ‘ seniman besar ‘ dalam wacana seni, meski terdapat banyak kririk diatasnya, adalah bahwa ideology individualism dan konsepsi Romantisisme tentang seniman masih kuat dalam bisnis dan media massa, di kalangan desainer dan konsumen.

Karena itu, seniman dipromosikan sebagai figure kharismatik sebagai “ daya jual’ karya mereka. Beberapa karya diantu oleh label-label yang membawa nama ( sama dengan tanda tangan seniman pada kanvas ), bahkan jika label tersebut, kenyataannya sebuah merek dagang, atau korporasi.

DAFTAR  PUSTAKA

Denise,Schmandt-Besserat , 2007, When Writing Met Art, Texas, Austin.

John Walker, , 2010, Desain, Sejarah, Budaya, Yogyakarta, Jalasutra.

Noel Carrol, , 2002, Philosphy Of Art, London, Routledge.

Yasraf Amir Piliang, 2003, Hipersemiotika, Yogyakarta, Jalasutra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s