Analisis Feminisme Fashion Street Style(K-Pop)

Tugas Uas Teori Kritis ( Dr. Jaeni B Wastap, M.Si )

Menyimak perkembangan street style di Indonesia layaknya ikon yang dapat terpengaruh dengan mudah. Media merupakan sosialisasi empuk bagi masyarakat konsumtif Indonesia. Dalam kurun waktu tidak lama, K- Pop seperti Gurita dengan mudah bergerilya sampai ke ranah psikologis terkecil seperti anak-anak.

Masyarakat Indonesia dengan tindakan sosial dilatar belakangi motif yang mendasarinya sehingga terwujud dalam tindakan nyata. Motif budaya yang dimaksud disini penekanannya pada aspek fashion/berpakaian. Tindakan social yang mencirikan pola konsumtif lebih mengarah kepada kapitalisme, namun tidak disadari oleh masyarakat itu sendiri. Pemicu utamanya adalah pandangan sosialis masyarakat terhadap media sebagai kekuatan social yang berorientasi pada konsumerisme. Tak dapat dipungkiri, kekuatan social mendominasi seluruh kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

Sistem produksi media inilah yang mempengaruhi kehidupan social masyarakat Indonesia, dikonstruksikan oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman mengenai dampaknya di masyarakat.

Media mendominasi suatu kesadaran tindakan dalam masyarakat, di tempat bekerja, dalam keluarga melalui proses sosialisasi. Kesadaran ini memberikan perubahan dalam berperilaku. Ruang lingkup perilaku social tak pernah lepas dari subyeknya di dunia ini, adalah laki-laki dan perempuan, sebagai mahluk social di masyarakat.

K-Pop adalah sosialisasi kapitalisme di masyarakat, cenderung mewakili asumsi pola pikir konsumtif terutama remaja. Kesadaran aktualisasi diri agar dapat diterima di masyarakat sebagai bentuk toleransi pergaulan dimana manusia beraktivitas.

Segmentasi K-Pop adalah remaja terutama perempuan yang mempunyai kesadaran pemikiran secara social kritis. Dimana terdapat kesadaran, pergaulan dan arus informasi yang membuat perempuan Indonesia terinspirasi menunjukan subyektifitasnya untuk berkembang.

K-  Pop adalah street style, sebagai protes kemapanan yang ditunjukan di dalam fashion , Indonesia dalam hal ini ditinjau dari analisis feminism dapat diterapkan dalam soal-soal keseharian. Fashion street style di Indonesia sebagai representasi simbolik atas perubahan social dalam hal peran eksistensi perempuan.

Fashion menciptakan citra-citra ideal tentang feminitas yang digunakan untuk mempertahankan kaum perempuan di tempat mereka, sebagai upaya menimbulkan perubahan social melalui pembaruan busana.

Sesuai hasil wawancaranya , Carol Gilligan ( 1993 )  mengemukakan, wanita mempunyai dorongan moral yang menonjol untuk menunjukan kepedulian secara konkret berfokus pada kebutuhannya dalam rangka menciptakan hubungan social yang berdasarkan prinsip keadilan social sebagai kepekaan pada kondisi tertentu.

Untuk menunjukan kepekaannya, beberapa obyek dibubuhi dengan identitas gender yang tampak bersifat ilmiah, namun dalam masyarakat kita sekarang, terdapat banyak produk yang terlalu dipaksakan sebagai strategi mengembangkan pasar melalui pengenalan terhadap kebaruan dan penganekaragaman produk fashion.

Tetapi perempuan tidak terlahir dengan kemampuan alami untuk menjadi konsumen,  itu merupakan keahlian yang dipelajari bersama-sama dengan pembentukan selera melalui satu proses, kendati selera agaknya merupakan perkara murni individual. Terutama fashion dalam K- Pop  di Indonesia, para perempuan memperoleh keahlian mendiskriminasi mereka melalui sejumlah saluran budaya : Kelompok sebaya, majalah gadis dan perempuan, media dan iklan pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s