Keindahan dalam Feminisme

Keindahan sejak dahulu telah mengalami pergulatan makna, dari Aristoteles, Thomas Aquinas, George Santayana hingga Hebert Read. Aristoteles dalam bukunya Rhetorica merumuskan keindahan dalam kalimat “ that which being good is also pleasant “ ( sesuatu yang selain baik juga adalah menyenangkan ). Thomas Aquinas merumuskannya sebagai “ id quod visum placet “ ( that which pleased upon being seen atau sesuatu yang menyenangkan ketika dilihat ), Charles J. Busnell memberikan definisi keindahan sebagai “ that quality which brings intense appreciation of value or inspiring ideals “ ( kualitas yang mendatangkan penghargaan yang mendalam tentang berbagai nilai atau ideal yang membangkitkan semangat).

Sedangkan filsuf Italia,Benedetto Croce merumuskan keindahan sebagai “ the succesfull expression of an intuition “ ( pengungkapan yang berhasil dari suatu intuisi ), Immanuel Kant, filsuf jerman memberi definisi keindahan sebagai sesuatu yang menyenangkan tidak melalui kesan ataupun konsep, melainkan dengan kemestian yang subjektif dalam suatu cara yang seketika, semesta dan tidak berkepentingan.

Eric Newton dalam The Meaning of Beauty (1950 ) memberi makna keindahan adalah segi dari gejala-gejala yang ketika diserap oleh indera-indera dan selanjutnya diteruskan kepada daya pemikiran dari penyerapan itu, mempunyai kekuatan membangkitkan tanggapan-tanggapan yang diambil dari pengalamannya yang terkumpul. Sedangkan George Santayana merumuskan bahwa keindahan adalah kesenangan yang dianggap sebagai sifat dari suatu benda.

Sampai pada era postmodern, konsep mengenai keindahan bukan lagi menjadi sesuatu yang penting untuk diperdebatkan. Bahkan Jean Francois Lyotard, pemikir dari Perancis memaknai bahwa postmodernisme menyajikan dengan menolak pesona bentuk-bentuk yang indah namun cenderung mencari bentuk- bentuk penyajian baru serta tidak untuk menikmatinya, tetapi untuk membangkitkan perasaan ketidakmungkinan dalam penyajian tersebut.

Perlukah sebuah keindahan dinamai? Dimaknai? Atau digambarkan secara definitive? Lalu bagaimana pula memperbincangkan karya seni yang indah? Bukankah kita dengan memaknai keindahan itu sendiri dapat terjebak dalam ambiguitas. Sebuah rasa tentang sesuatu itu indah kini tidak dapat lagi menjadi patokan objektif menilai karya seni.

Keindahan adalah kenikmatan yang tergambar setelah melakukan, mengalami atau menemukan bentuk. Dalam perspektif tertentu, bukankah keindahan adalah ekstase yang menjalar dalam tubuh? Antara berhenti atau terus melakukan penelusuran – penelusuran.

Image

Karya Jean – August Dominique Ingrea , Grande Odalisque

Perkembangan hiperealitas yang pesat membuktikan seolah-olah tubuh hanyalah bagian kecil dari struktur bangun yang kompleks. Berkembangnya ruang – ruang imajiner, fantasi dan ilusi menjadikan permasalahan baru dan menjadikan batas antara tubuh dan objek-ojek sekitar  semakin menipis ( karena bersatu dalam komoditi ).

Makna estetik semakin beragam, tubuh tidak lagi menjadi penikmat, tetapi juga pemberi nikmat. Semua telah cair, bahkan dalam wacana kapitalisme mutakhir, keindahan dapat disepadankan dengan kesenangan . Irama kesenangan dan penampakan tubuh menjadi satu dalam hukum-hukum komoditas.

Bagaimana dengan pornografi, atau ada sebagian orang mencoba mempersepsikan dan membedakan sebagai “ seni telanjang “. Bahkan sampai kini orang masih saja memperkarakan pornografi sebagai biang kerok kemerosotan moral masyarakat kita, namun di sisi lain aksi penumpasannya juga mengalami kegagalan.

Terbukti masih banyak akses yang dapat dihubungi, diakui atau tidak, pornografi telah menawarkan sebongkah keindahan yang sangat menakjubkan bagi penggemarnya. Dengan berbagai medianya, pornografi berhasil menerobos ruang pikiran manusia dan menghasilkan sebentuk kenikmatan yang maha akut.

Dalam persoalan ini, konsep keindahan menjadi sangat berhubungan dengan pemenuhan hasrat, libido dan kegandrungan dasar manusia, bukan berhubungan dengan moralitas. Untuk itulah perdebatan antara seni dan pornografi takkan pernah selesai, karena perbedaan yang cukup signifikan terhadap makna dan esensi keindahan pada setiap diri penonton.

Maka jika mengembalikan konsep keindahan dalam persoalan yang lebih spesifik ( misalnya dalam setiap individu ) kita tak bias melepaskan diri dalam nilai-nilai lainnya.Seperti Religi, etika, intelektual serta menyertai dan berkaitan dengan filsafat, ilmu dan seni yang kemudian menjadi unsure pembentuk konsepsi eksistensi manusiawi.

Feminisme Radikal

Aliran ini menawarkan ideology “ perjuangan separatism perempuan “. Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi social berdasarkan jenis kelamin di Barat tahun1960-an. Utamanya adalah melawan kekerasan seksual dan industry pornografi.

Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat system patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki.Feminisme Radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas ( termasuk lesbianism ), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki dan dikotomi privat –publik

“ The Personal is political “ menjadi gagasan anyar yang dapat menjangkau permasalahan perempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan.

Kindahan dalam karya seni  berkaitan dengan konsep feminism radikal dapat ditemui salah satunya seperti Karya Tom Wesselmen , Nude #92, 1967.

Image

Penggambaran simbol-simbol terlarang menjadi industry pornografi ( yang dulu susah diperlihatkan ), kini dapat ditemui, dilepas, ditonton, diperlihatkan sehingga masyarakat ddapat melihatnya.

Sekali lagi pornografi telah membuka sebuah kecenderungan melahirkan konsepsi keindahan yang mencengkram banyak orang. Daripada sekedar keindahan yang “ santun “ seperti pada karya seni adiluhung lainnya.            Memperdebatkan pornografi sama dengan memperdebatkan esensi keindahan itu sendiri, sama halnya dengan perdebatan individu.

Keindahan dalam pornografi tiba-tiba saja memiliki banyak ukuran, kadang bergantung pada lingkungan komunitas masyarakatnya, kadang terpaku pada kenikmatan inderawi, dan kadang juga dipaksa oleh konvesi tertentu. Persoalan tentang nilai-nilai estetika pada setiap karya seni menjadi konsekuensi masing –masing pihak.

Berbagai media yang menyuguhkan ketelanjangan tubuh baik perempuan atau pria, dapat disangka telah meleburkan persoalan seni ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Foto-foto porno, lukisan nude atau gambar lainnya dikonsumsi dalam taraf tertentu , banyak dipersepsikan seagai salah satu bentuk kesenian.

Sebutlah blue film adalah hasil dari kecanggihan ide seni film, Playboy atau sejenisnya adalah hasil kecemerlangan ide dari seni foto dan sebagainya. Maka bagi masyarakat penggemar pornografi, keindahan yang muncul di sana lebih banyak merupakan hasil kemasan tubuh yang terkomodifikasi dengan cara-cara tertentu termasuk karya seni lukis.

Berkaitan dengan karya seni konteksnya terhadap konsep feminism radikal, terdapat konsep yang melahirkan berbagai asas tentang keindahan ( aesthetic form ) seperti dibahas oleh Witt H. Parker dalam The Analisys of Art, mengenai ciri-ciri umum dari bentuk estetik menjadi 6 asas :

  1. The Principle of Organic Unity ( Asas kesatuan organis )
  2. The Principle of Theme ( Asas Tema )
  3. The Principle of Thematic Variation ( Asas Variasi menurut Tema )
  4. The Principle of Balance ( Asas Keseimbangan )
  5. The Principle of Evolution ( Asas Perkembangan )
  6. The Principle of Hierarchy ( Asas Tata Jenjang )

Dari beberapa pengertian mengenai keindahan, bukankah manusia telah jauh meninggalkan realitas  dalam mencari keindahan, yang lebih dari sekedar keindahan kasat mata. Apa pengertian keindahan diatas dapat diterima ketika seseorang telah berada dalam sebuah keindahan hiperrealitas?

Bukankah keindahan yang telah terumuskan juga akan menjadi pagar pembatas kreativitas bagi seniman yang memiliki kecenderungan “ liar dan nakal “ atas konvensi yang telah dirumuskan pada keenam asas tadi?.

Oleh karena itu,  feminism radikal memperkarakan keindahan memiliki cara yang sangat berbeda, karena bergantung pada tingkat eksistensinya masing-masing. Eksistensi perempuan adalah cara berada yang khas dari wanita itu sendiri, saling berkaitan antara filsafat, ilmu dan seni ( intelektualitas ), bukan lagi membahas persoalan-persoalan privat yang diekspos ke dalam media.

Jenis eksistensi ini tidak dinikmati dan tidak dapat ditiru  oleh setiap manusia atau semua jenis mahluk lainnya. Semua manusia mempuyai eksistensi social yang sama dengan manusia, tetapi hanya manusia yang memiliki kekhasan dan menjalani eksistensi manusiawi pula. Eksistensi ini kemudian membentuk perilaku dalam bercitarasa keindahan dan berkehidupan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Jaeni B. Wastap, 2011,Teori-Teori Kritis, DIPA STSI, Bandung.

Louis Fichner-Rathus, Understanding Art, 1994, : Prentice Hall, Englewood Cliffs , New Jersey.

Mikke Susanto, 2003, Membongkar Seni Rupa, Buku Baik, Yogyakarta.

The Liang Gie, 1997, Filsafat Keindahan, , Pusat Belajar Ilmu Berguna, Yogyakarta.

Rosemarie Putnam Tong,  2006, Feminist Thought, , Jalasutra, Yogyakarta.

Yasraf Amir Piliang, 1998, Sebuah Dunia yang Dilipat , Mizan, Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s