Paradigma Pemikiran Manusia

FILSAFAT ILMU – Prof. Dr. Tjetjep Rohendi Rohidi,M.A

Desain mempunyai bidang khusus yang melibatkan didalamnya filsafat, keteknikan dan estetik. Di dalam aneka bidang itu, terdapat obyek desain yang bersifat spesifik, yang terdiri dari dunia obyek, manusia yang terkait, struktur yang membangunnya, serta nilai dan makna yang terkandung didalamnya.

Desain  merupakan salah satu dalam filsafat seni yang mengkaji tentang klasifikasi fenomena dalam bidang desain. Fenomena yang dikaji dapat ditinjau berupa obyek konkret- fisikal-tangible maupun obyek abstrak –non- fisikal-intangible , atau kombinasi keduanya.

Kajian tentang obyek-obyek konkret dapat berupa deskripsi atau analisis tentang sifat fisik, material atau wujud tangible-nya, akan tetapi dapat pula berupa interpretasi terhadap kandungan-kandungan abstrak di baliknya ( nilai, ide, esensi, ideology, makna ).

Desain Ontologis membahas bidang kajian ilmu dari subyeknya yakni Ilmu Alam dan Ilmu Sosial. Keduanya pada prinsipnya adalah sama yakni gejala fisik. Ilmu Hakikat adalah realitas satu unsure ( Monisme ) atau dua unsure ( dualisme ) ataukah lebih ( Pluralisme )

Desain Aksiologi membahas kajian tentang nilai dalam bidang desain dengan perhatian khusus pada relasi-relasi antara nila-nilai teknis, ekonomi, moral, psikis, sosial, kultural dan estetik.

Desain Epistemologis membahas kajian tentang sifat dan validitas cara mengetahui, meyakini dan merasa dalam bidang desain.

1.1.Fakta Ontologis

Kajian dengan pendekatan Ilmu Pengetahuan (Alam) dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan objektif, yaitu pengetahuan rasional yang dibangun berdasarkan kekuatan nalar rasional terhadap data-data empirik ( FAKTA )

Pengetahuan rasional- empiric ini adalah pengetahuan yang terbebas dari muatan-muatan subjektif, irasional dan metafisik. Oendekatan ilmu pengetahuan digunakan untuk memperoleh pengetahuan, diantaranya tentang prinsip dasar, struktur fisik, system gerak, efisiensi, efektivitas, daya guna ( performance ), produktivitas, kenyamanan, pengaruh fisik, dinamika, gaya mekanik, tingkah laku, pola pergerakan.

Misalnya, tentang kenyamanan sebuah produk, dengan meneliti factor-faktor ergonominya, maka disini harus digunakan pendekatan ilmu pengetahuan ( sains ) disebabkan kenyamanan itu harus diketahui melalui ukuran –ukuran objektif, akurat dan teruji ( valid ). Begitu juga dalam penelitian tentang tingkat humiditas pada ruang interior bangunan, harus digunakan pendekatan natural sciences, yang di dalamnya diperlukan ukuran-ukuran fisikal yang akurat, presisi dan valid.

1.2. Asumsi Epistemologis

Ruang lingkup epistemologis dapat dilihat dalam kaitannya dengan sejumlah disiplin yang bisa bekerja sama seperti : metafisika, logika dan psikologi. Situasi pengetahuan dengan pertanyaan tentang hubungan antara subyek yang mengetahui ( peneliti ), data indrawi ( pengalaman ) dan obyek  ( konkret / abstrak ). Bagaimana peneliti mengetahui obyek yang diteliti ( epistemology ) akan mempengaruhi pengetahuan yang dihasilkan.

Dalam kasus pengetahuan yang melibatkan persepsi,asumsi, kesadaran, emosi, intuisi atau perasaan, seperti dalam metode hermeneutika, maka pengalaman subyek peneliti sangat menentukan pengetahuan yang dihasilkan. Pengetahuan obyektif menggunakan pendekatan natural sciences situasi obyek yang diteliti menentukan pengetahuan itu.

1.3. Nilai Aksiologis

Merupakan  kajian tentang nilai yang dilakukan melalui pendekatan estetik yang khusus menekankan aspekaspek seni dan desain dalam kaitannya dengan daya tarik estetik. Daya tarik estetik ini dapat muncul dari aspek bentuk ( formal ), kandungan isi ( symbol ) dan ungkapan emosi ( expression ). Sehingga memnghasilkan model analisis formalism, simbolisme dan ekspresionisme.

Analisis formal karya seni mempertimbangkan pertama-tama efek estetik yang diciptakan oleh bagian-bagian komponen formal dari seni dan desain. Bagian- bagian ini disebut elemen-elemen bemtuk ( formal elements ) : garis, raut ( shape ), tekstur, ruang, warna dan cahaya yang disusun dalam pelbagai cara yang berbeda, untukmenghasilkan komposisis seni dan desain.

Komposisi ini menghasilkan apa yang disebut prinsip desain, susunan akhir yang diciptakan oleh desainer disebut komposisi karya desain. Analisis formal dari komposisi desain melihat pada masing-masing elemen.

Pendekatan ikonografis terhadap desain lebih mempertimbangkan makna dari sebuah karya. Ikonografi adalah cara seniman atau desainer “ menulis”  gambar ( image ) serta apa yang “ ditulis” sendiri oleh gambar itu. Berupa “ cerita “ yang diungkapkannya.

 DAFTAR PUSTAKA

Carrol, Noel, 2002, Philosphy Of Art,London, Routledge.

Kellner, Douglas, 1995, Media Culture,London, Routledge.

Schmandt-Besserat , Denise, 2007, When Writing Met Art, Texas, Austin. 

Walker, John, 2010, Desain, Sejarah, Budaya,Yogyakarta, Jalasutra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s