Kajian Batik Kawung

UTS – Prof. Drs. Jakobus Sumardjo – Filsafat Seni

POLA    LIMA   DALAM   BATIK     KAWUNG

Pola limaadalah kategori etika, bersumber dan system kepercayaan religinya, sehingga kebudayaan pra modern polalimamasuk kategori budaya mistis-spiritual. Batik kawung yang dipergunakan  untuk melayat jenazah, mengandung symbol  angka empat dalam kebudayaan suku jawa, mengandung falsafah asal muasal kehidupan manusia  ( Kiblat Papat Lima Pancer ).

Semua hal dipola berdasarkan mancapat kalimo pancer, baik alam rohani, alam semesta ( jagad besar ), manusia ( jagad kecil ), budaya ( Negara, seni, teknologi, ekonomi ). Mancapat Kalimo Pancer adalah paradigm hubungan Tunggal dan Plural.

Tunggal adalah pusat ( Titik Tengah ) dan plural adalah pengikut, saudara, keluarga, anggota dan pusat, inilah Dwitunggal. Kawulo – Gusti, tunggal adalah paradox karena merupakan sintesa dari angota-anggotanya yang plural dan dualistic.

Pengaturan ini menghadirkan yang transenden ( rohani, ilahi, kedewaan ) ke dunia imanen ( materi, duniawi, manusiawi ) atau  membuat yang imanen menjadi transenden. Gerak memusat dan menyebar ada pada batik kawung, dalam gerak memusat, yang imanen menuju pusat, Tunggal, yang transenden.

Inilah “ Jalan ke atas “ manunggaling kawulo dengan Gustinya. Dalam zaman Hindu – Budha jalan ini mengikuti gerak pradaksina atau arah jarum jam. Sedangkan gerak menyebar , yang transenden menyebar mengaliri atau menjadi pasangan- pasangan antagonistic imanen.

Inilah “ Dari Atas Ke Bawah “ Gusti Manunggal dengan kawulonya, arah geraknya mengirikan pusat atau berbalikan dengan arah jarum jam.

BATIK KAWUNG DALAM FALSAFAH JAWA

Kebudayaan suku jawa merupakan kebudayaan tertua yang ada diindonesia, hadirnya berbagai kerajaan yang berdiri kokoh di masa lampau merupakan salah satu bukti yang berbicara bahwa kebudayaan suku jawa sudah ada sejak lama, jauh sebelum modernisasi mengenai kehidupan masyarakat jawa seperti sekarang ini.

Setiap peradaban yang pernah lestari di bumi selalu meninggalkan warisan simbol-simbol

Yang menjadi bukti eksistensi. Simbol-simbol tersebut pada masanya bias menjadi merupakan media komunikasi. Entah komunikasi kepada sesama manusia atau dengan Tuhannya. Begitupun yang terjadi pada kebudayan suku jawa.

Kebudayaan suku jawa melintasi waktu yang teramat panjang, banyak simbol yang dimiliki   dan tetap bertahan sampai sekarang. Dengan simbol itu komunikasi masa lalu dikirim dengan akurat kepada masyarakat modern, sehingga mereka dapat mengetahui makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Pada perkembangannya batik mengalami perkembangan yang berkenaan dengan motif dan corak. Motif dan corak batik itu sendiri diciptakan dari proses yang cukup panjang, sebuah proses wajar yang memang sering terjadi pada sebuah kebudayaan suku Jawa.

Batik Kawung  merupakan batik tertua, jika diperhatikan  motif batik kawung ini memiliki irama  dalam repetisi  pola lingkaran  geometris yang saling berisikan. Mengambil  bentuk dasar buah aren ( kawung ) yang distilasi dalam bentuk segiempat simetris. Angka empat dalam kebudayaan suku jawa, mengandung falsafah asal muasal kehidupan manusia  ( Kiblat Papat Lima Pancer ).

Bentuk dasarnya berupa lingkaran oval yang hampir menyentuh satu sama lain dengan simetris, yang diperhatikan jika seksama menimbulkan ilusi optik dengan munculnya bentuk bunga kelopak. Masing –masing kelopak membentuk runcing ramping.

Dinamakan batik kawung karena motif yang dipakai merupakan stilasi dari penampang buah aren ( kawung ). Aren sebagai penghasil gula yang meyimbolkan rasa manis , memiliki filosofis keagungan, dan kebijaksanaan. Pohon yang lurus tanpa cabang melambangkan keadilan, karena itu motif batik kawung memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi tentang kekuasaan yang adil dan bijaksana.

Bunga empat kelopak dianggap representasi dari lotus ( bunga teratai ). Bunga dalam falsafah jawa kuno mengandung makna kesucian , sementara stilasi bunga dan buah secara umum memiliki makna kesuburan dan harapan.

Batik kawung mengandung falsafah kehidupan yang sangat dalam dan suci tentang asal muasal penciptaan manusia. Umur  panjang yang dimaknai  sebagai perjalanan menuju kehidupan yang abadi. Karena itulah maka dalam beberapa tradisi jawa , Batik Kawung digunakan untuk menyelimuti jenazah . Sebagai perlambang perjalanan panjang menuju keabadian yang sedang ditempuh roh.

Empat unsur bunga kawung yang saling beririsan simetris dengan menyisakan ruang kosong di titik pusat, dimaknai juga sebagai kiblat papatlimapancer, falsafah adiluhung Jawa yang bermakna : memandang dari segi empat perspektif mata angin untuk  mendapatkan cahaya  ( pancer ) kebijaksanaan.

 

 

 

 

One thought on “Kajian Batik Kawung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s