Art Perspective ( Benni Yohanes, S.Sn, M. Hum ) – Filsafat Seni

SENI   DALAM  PERSPEKTIF   FILSAFAT

          Filsafat merupakan suatu cara berfikir dengan mengupas sampai sedalam-dalamnya suatu permasalahan. Bukan menjawab soal dari pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, dengan kata lain adalah mengamati hal-hal sampai sekecil-kecilnya. Pernyataan apapun dan betapapun sederhananya, tidak diterima begitu saja oleh filsafat tanpa pengujian yang seksama.

          Adapun dalam filsafat terdapat pokok kajian yang harus ditelaah ;

  1. Logika

Berupa kajian yang mencari mana yang benar dan mana yang salah

    2.  Etika

Kajian yang mencari mana yang baik dan tidak baik

   3. Estetika

Kajian untuk menentukan mana yang indah dan mana yang tidak

   4.Metafisika

Kajian yang termasuk dalam teori tentang ada, tidak ada, hakikat keberadaan suatu zat, hakikat pikiran , kaitan antara pikiran dan zat.

   5.Politik

Kajian mengenai organisasi pemerintahan yang ideal.

Kelima hal diatas, merupakan pokok kajian filsafat pada sebuah ilmu, sehingga filsafat bersifat menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Dengan kata lain, cakupan filsafat mengenai hal-hal bersifat umum.

Konteks Seni dalam filsafat, harus dipahami lebih dulu mengenai Seni sebagai suatu ilmu. Secara keseluruhan  berupa pertanggung jawaban bidang kajian  seni, sesuai prinsip dasar cara berfikir falsafah dan keilmuan.

 

Di dalam Seni terdapat proses dimensi berupa :

  1. Pengetahuan ( Kreasi )
  2. Fakta ( Pengalaman )
  3. Ilmu ( Perencanaan )
  4. Sains ( Penyusunan )
  5. Meta-Kognitif ( Aktualisasi ).

Berawal dari sudut pandang yang berbeda mengenai pemahaman proses dimensi dalam seni, semua  berdasarkan pembuktian dari Realita fisik, Persepsi Rasio serta Bukti Penelitian.

Ini adalah fase pragmatis berupa pembuktian dari penelitian yang saling berkaitan antara pemahaman, konsep dan tata cara yang dituangkan dalam penemuan-penemuan ilmiah baru ( bukan konteks scientific ) namun lebih kepada hasil karya seni baru yang bermunculan .

Pengalaman yang dituangkan dalam konsep melalui berbagai cara / media adalah aspek kognitif, pengetahuan akan filsafat merupakan bagian dari penelitian, sehingga pengetahuan akan kebenaran dalam seni tidak dapat diterjemahkan ( di luar kognitif ).

Seni sebagai penyempurnaan dapat divisualisasikan berdasarkan eksperimen yang pernah dilakukan, seni sebagai solusi dari keteraturan system, dan seni sebagai induksi dari lintas berbagai ilmu.

Dalam ilmu kebudayaan, terjadi proses deskripsi atau penjelasan mengenai kejadian-kejadian satu demi satu, bersifat khas dan tidak berulang. Dimana didalamnya terdapat aktivitas manusia yang berfikir yang tidak dapat diamati ( unobservable ) . Hanya berupa karya yang dapat diamati

Filsafat ilmu bukan lagi merupakan hasil usaha manusia semata-mata berdasarkan pengalaman ( empiris ) yang diperolehnya melaui pengamatan indera dan penelitian dan pembuktiannya. Filsafat ilmu abad -20 , bersumber pada manusia sendiri yang istimewa dalam telaahannya karena karunia yang dimilikinya yakni kemampuan berimajinasi.

Dengan kata lain, filsafat ilmu  dalam dimensi kreatif, yang dimiliki manusia dengan memperlihatkan kecenderungan mengaktualkan dirinya, yang mencakup kemampuan kreatif.

Kreativitas adalah suatu kondisi, sikap, atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tak mungkin dirumuskan secara tuntas. Konsep terbaru dari kreatifitas didasarkan atas dasar fungsi berfikir, merasa, penginderaan cipta, bakat dan intuisi. Selalu mencakup interpenetrasi, keseluruhan hidup berfikir, merasa mengindera dan intuisi secara menyatu.

Terdapat 4 fungsi dasar dari model integrative ;

  1. Berfikir Rasional
  2. Perkembangan emosional / perasaan tingkat tinggi
  3. Perkembangan bakat khusus / Talenta dalam mental dan fisik tingkat tinggi
  4. Kesadaran tingkat tinggi yang menghasilkan penggunaan imajinasi, fantasi, dan pendobrakan pada kondisi ambang kesadaran/ ketidaksadaran.

 

FILSAFAT SENI DARI PERSPEKTIF SOSIAL

 

Sebagai pengetahuan bukan intelektual, sesuatu yang otentik, orisinal dan kepekaan rasa. Logis, bebas dari batasan- batasan yang relative. Dalam konteks social, seni adalah pengetahuan yang menggabungkan unsur-unsur perspektif.    

Gejala sosial sebagai media realita yang merupakan ciri- cirri kemanusiaan, termasuk di dalamnya proses psikofisik. Ilmu social dapat dilihat dari berbagai sudut, perbedaan itu hanya mungkin dipisahkan manusia terjadi karena interaksi dengan lingkungan social.

Seni dan obyek social sangat beragam manifestasinya, baik itu sebagai subyek dan obyek di dalam karya sebuah seni. Dapat diamati secara langsung ( observable behavior ) dengan berbagai aspek kehidupan yag membantu dalam pengembangan ilmu filsafat. Kebenaran bukan pada argument-argumen, melainkan keseluruhan dari pengalaman.

Konsep keindahan berupa elemen yang melengkapi obyek seni secara orisinal selain penafsiran-penafsiran yang dilakukan. Hubungan estetis, pengalaman berkreasi, menikmati ketertarikan pada obyek adalah cabang dari seni.

Pemahaman perspektif social dimulai dari ketajaman intuisi dari manusia itu sendiri, totalitas dari pengungkapan sebuah karya, yang merupakan bagian dari kebutuhan hidup manusia terus berlangsung. Bagaimana emosi social mempengaruhi aktualisasi dari sisi kehidupan manusia.

Ekspresi social dalam manifestasi emosional seniman, dirasakan dan dituangkan  secara spesifik ke dalam karya. Karya lebih dari sekedar pengungkapan rasa, seyogyanya seni lebih pada pengungkapan di luar emosi manusia.Tidak adanya keterbatasan dari pelaku seni.

Aktifitas seni sering mencerminkan perkembangan masa ( social ), kreasi mereka memberikan peluang untuk menunjukan lebih jelas, dan memberikan dampak kondisi social saat itu. Kenyataan dampak dari seni diantaranya perjuangan kaum buruh, pertentangan ras social, eksploitasi dunia, perkembangan politik.

Obyek di dalam seni dalam ilustrasi filsafat Marx mengungkapkan bahwa seni adalah produk dari kondisi sosial , dimana terdapat penafsiran di dalamnya seni merupakan alur  yang mengikuti berdasarkan pemahaman mereka pribadi sebagai mahluk social.

Seringkali seni dijadikan propaganda sebuah kostitusi elite politik. Sejarah sebuah negara dapat dipelajari dari karya seni, dimana hegemoni dari dunia seni terdapat kritik di dalamnya , berbagai teori juga bermunculan tetapi bukan karya individual yang berbicara.

Perlu digarisbawahi, seniman adalah pekerja keras, mencari solusi dari kesulitan dengan jawaban-jawaban berupa karya sangat mendalam, berbicara dalam karya dengan rasa, sebagai persepsi kepada dunia melalui gambaran inspirasi – inspirasi ditujukan kepada pemerintahan sebagai jawaban social.

Filsafat seni dari perspektif social pada status sebelum era kapitalis bahwa seniman / karya adalah Keindahan. Seni sebagai ilmu pengetahuan yang bersumber pada obyek personal. Seni merupakan ekspresi keseluruhan seorang seniman sebagai mahakarya.

Filsafat seni dari perspektif social pada status selama era kapitalis bahwa seniman / karya sebagai kepuasan social. Seni sebagai obyek social dikemas untuk memenuhi kebutuhan konsumtif komunitas sosial.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lanur , Alex, Hakikat Pengetahuan dan Cara kerja Ilmu- Ilmu, 1993, Jakarta, Gramedia.

 

Semiawan Conny, Putrawan Made, Setiawan, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, Remadja Karya.

 

Beerling,Kwee, Mooij Van Peursen, Pengantar Filsafat Ilmu, Tiara Wacana.

 

Diktat  Perkuliahan, Falsafah Ilmu Pengetahuan, 1979, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s