Kebudayaan-1(Dr. Gugun Gunadi., Hum)

PERANAN KEBUDAYAAN DALAM MASYARAKAT

Pengantar:

        Pada dasarnya manusia lahir dan berkembang mengikuti dan mencontoh nilai-nilai yang berada di lingkunganya, hal ini tidak terlepas dari peranan wilayah sekitar yang memberikan contoh dalam perkembangan pada setiap waktu dan keadaan. Budaya memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan manusianya, sebagai contoh, setiap manusia memiliki naluri dan kemampuan menyerap apa yang menjadi contoh di kehidupanya, diibaratkan sebuah balon gas berwarna warni yang dapat terbang di udara, kita melihat balon itu dapat terbang bukan berdasarkan warnanya, namun yang menjadi intinya adalah isi dari balon tersebut.

Poespowardojo (1987) mengemukakan;

1) Kebudayaa Indonesia mempunyai perenan yang berbeda-beda dalam sejarah kehidupan bangsa. Hal itu terlihat dari penilaian sebagai berikut: 

a.   Dalam jaman pra-revolusi, kebudayaan Indonesia mempunyai peranan yang cukup besar dalam membentuk kesadaran   nasional. Hal itu dapat disaksikan dalam kebangkitan kesadaran nasional memalui kebudayaan.

b.   Dalam jaman revolusi, kebudayaan Indonesia mampu menyatukan seluruh bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

c.   Namun sejak tahun 1970-an peranan kebudayaan Indonesia dalam pembangunan nasional mulai menurun, karena terdesak oleh factor-faktor baru seperti berbagai produksi dan teknologi, yang bermunculan dalam proses pembangunan dan modernisasi.

 

2)        Kemunduran peranan kebudayaan Indonesia tampak dari gelaja-geaja yang tampil dalam kehidupan masyarakat. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat membanjir,  sehingga ekonomi masyarakat meningkat. Kemakmuran ekonomi makin meningkat. Demikian pula datangya teknologi membuka perspektif baru bagi masyarakat dalam gaya hidup modern. Namun kelimpahan produk dan tersedianya teknologi modern, pada kebudayaan masyarakat yang masih tradisionil menyebabkan benturan-benturan social-budaya, yang akhirnya menyebabkan tumbuhnya gejala dan sikap serta mentalitas sebagai berikut:

a.  Split personality. Masuknya produk dan materi yang masih asing dalam kehidupan masyarakat tidak diikuti oleh perubahan sikap dan persepsi yang dibutuhkan, sehingga orang dapat hidup dalam dunia yang berbeda tanpa mengalami keresahan jiwa.

b.   Redifikasi, yang mendorong materi dan benda dinilai sebagai ukuran. Dengan demikian berkembanglah faham materialisme yang ikut menentukan suasana  pergaulan social.

c.   Pendangkalan nilai dan persepsi yang mendorong formalitas dan verbalisme. Makna dalam simbolisme mulai menghilang dengan demikian tinggallah bentuk-bentuk lahiriah belaka.

d.   Manipulasi yang diarahkan bukan saja terhadap benda, melainkan juga terhadap sikap dan kualitas hidup. Jalan pintas membawa sekaligus tumbuhnya pragmatisme di kalangan masyarakat elit.

e.  Rasa minder mulai tampak, sehinngga identitas masional menghadapi masalah kritisnya.

 

3)  Kemunduran peranan kebudayaan tersebut di atas menunjukkan pengaruhnya di bidang social. Hal itu terihat dalam proses terjadinya:

a.  Disintegrasi social yang disebabkan oleh fragmentasi dan kesenjangan kondisi ekonomi,

b.   Kemiskinan yang berifat structural,

c.   Tata hukum yang kurang menunjukkan efisien dan efektifvitasnya,

d.   Birokrasi yang semakin melemah, karena kurang menunjukkan fungsi pelayanannya.

Dari beberapa panjabaran tersebutdapat disimpulkan, bahwa kebudayaan sangat berperan penting dalam setiap kehidupan manusia sebagai landasan berfikir dan bertindak.

               Kita dapat mengatakan bahwasakebudayaan sebagai landasan dasar manusia untuk berkembang dan bertindak di dalam kehidupan. Jika kita mengutip perkataan dari Mohamad Hatta tentang kebudayaan; kebudayaan selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat baik, jadi kebudayaan menurut Hatta sendiri adalah suatu hal yang lebih ditekankan pada hal yang baik dan tidak terkesan negative.

Contoh:

Seorang yang belajar Hipnoterapi, kemudian dalam pengamalannya Hipnoterapi ia gunakan untuk mengobati orang yang kecanduan pada narkotika (sesuatu yang positif), ilmu tersebut digunakan bukan untuk hal yang bersifat negative, tetapi andai digunakan untuk menipu orang dengan cara Gendam menjadi negative . Hipnotis baik jika digunakan untuk memperbaiki kondisi seseorang dari sakit menjadi sehat.

Proses humanisasi adalah hal yang harus ditekankan dalam kehidupan bermasyarakat, ketika manusia bisa memanusikan sesamanya, hal ini jelas sangat penting di tekankan di kehidupan kita. Pengaruh globalisasi yang terbentuk dalam ruang-ruang yang lebih sempit (glokalisasi) yang diutarakan Ritzer, sangatlah mengusik tatanan budaya pada masyarakat lokalnya. Cepatnya arus informasi, teknologi dan perputaran barang pada satu waktu yang bersamaan dapat memberikan kemudahan bagi manusianya, namun disisi lain hal ini sangat berpengaruh terhadap tatanan budaya lokalnya. Tatanan nilai-nilai lokal harus dipelihara sedemikian baik sehingga masyarakat dapat memfilter segala bentuk hal yang dapat merusak tatanan budaya masyarakat lokalnya.

                Berkaca pada kondisi sekarang ini, begitu banyak kejadian yang mengusik hati kita, seperti ketika manusia tidak dapat menjaga sesamanya, kemiskinan yang tidak dapat di tuntaskan, dsb.

1.        Banyak rakyat yang memakan nasi tiwul,
2.        Banyak rakyat yang makan nasi aking,
3.        Banyak rakyat yang makan sampah (benda/sayur dan buah-buahan buangan),
4.        Ada seorang nenek yang meninggal saat akan diberi makan, karena sudah tidak kuat menahan lapar.
5.        Di pedesaan sudah sulit sekali mendapatkan minyak tanah dan minyak goreng (selain harganya mahal, barangnya susah didapat), untuk memasak kembali menggunakan kayu bakar. Maka hutan dirambah oleh masyarakat, akibatnya terjadi kerusakan hutan,
6.        Cara makan yang sudah tidak layak dalam abad modern, oncom dan tempe dibakar, tahu cukup dibasuh dan dimakan mentah sebagai lauk pauk, ikan dimasak dengan cara dibubuy, dan banyak lagi.

Hal ini tidak terlepas dari rusaknya dan tidak berfungsinya manusia dalam mengamalkan makna kebudayaan yang sebenarnya.

1.        Korupsi merajalela, para pejabat dan wakil rakyat kaya dengan cara mengambil uang rakyat, tidak mereka pikirkan akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya,
2.        Bangunan dan kantor-kantor department berlomba-lomba dibangun dengan megah, padahal uang tersebut dapat digunakan untuk membangun sekolah dasar di desa yang sudah tidak layak digunakan untuk sekolah,
3.        Para pejabat menggunakan mobil-mobil dengan harga paling murah 500 juta, padahal 1 kendaraan cukup untuk memberi makan rakyat miskin sebanyak 500 orang selama 50 hari, jadi berapa orang dapat diberi makan selama 50 hari jika wakil rakyat yang menggunakan kendaraan seharga 500 juta ada 1000 orang. Yakin rakyat yang kelaparan dapat teratasi.    

Budaya adalah sebagai dasar yang membentuk setiap prilaku manusianya, jika budaya yang bersifat baik dapat diamalkan maka tatanan kemanusiaan akan terjaga dengan baik, namun jika budaya sudah tidak bisa lagi dipahami dan dimaknai dan terkesan terusak dan terabaikan maka akan timbul hal yang sebaliknya.

1.        Perlombaan kekayaan, dilakukan dengan cara apa saja, asal hidup senang secara materi,
2.        Rakyat ditipu dengan janji-janji palsu. Berpura-pura sebagai orang alim dan jujur, padahal sebenarnya mereka adalah srigala berbulu domba.
3.        Berbagai persyaratan yang seharusnya mudah didapatkan, lalu dipersulit karena segalanya harus ditebus dengan uang.
4.        Saat ini sudah susah membedakan di antara selebrity dengan pendakwah, ya pendakwah  ya selebrity, ya selebrity  ya pendakwah.

 

Bagaimana dengan Budaya Lokal?

Indonesia terkenal dengan keanekaragaman budaya local. Hal ini yang katanya  menjadi suatu kebanggaan sekaligus tantangan untuk mempertahankan serta mewariskan  kepada generasi selanjutnya. Budaya lokal Indonesia sangat membanggakan karena bervariasi dan memiliki keunikan tersendiri. Seiring berkembangnya zaman, yang menimbulkan perubahan pola hidup masyakat yang lebih modern. Maka, kebanyakan masyarakat lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal.

Banyak faktor yang menyebabkan budaya lokal dilupakan dimasa sekarang ini, misalnya masuknya budaya asing, sebetulnya masuknya budaya asing ke suatu negara merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataannya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya lokal mulai dilupakan.

Faktor lain yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnyaperanan budaya lokal. Budaya lokal adalah identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak diakui oleh negara lain. Budaya asing boleh masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara lain yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negaranya.

Tugas utama kita sebagai bangsa Indonesia, adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewariskan budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan megharumkan nama Indonesia.

Berikut pembahasan dengan menggunakan analisis SWOT

Strengh (Kekuatan)

1.        Keanekaragaman budaya local yang ada di Indonesia dapat dijadikan sebagai aset yang tidak dapat disamakan dengan budaya lokal negara lain. Budaya lokal yang dimiliki Indonesia berbeda-beda pada setiap daerah. Tiap daerah memiliki ciri khas budayanya, seperti rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat yang dianut. Semua itu dapat dijadikan kekuatan untuk dapat memperkokoh ketahanan budaya bangsa dimata Internasional.
2.        Kekhasan budaya local yang dimiliki setiap daerah di Indonesia memiliki kekuatan tersendiri. Misalnya rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat yang dianut. Kekhasan budaya lokal ini sering kali menarik pandangan negara lain. Terbukti banyaknya warga asing yang  mempelajari budaya local Indonesia seperti belajar tarian khas suatu daerah atau mencari barang-barang kerajinan untuk dijadikan buah tangan. Ini membuktikan bahwa budaya local bangsa Indonesia memiliki ciri khas yang unik.
3.        Kebudayaan local menjadi sumber ketahanan budaya bangsa, kesatuan budaya lokal yang dimiliki Indonesia merupakan budaya bangsa yang mewakili identitas negara Indonesia. Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta diwarisi dengan baik agar budaya bangsa tetap kokoh.

Weakness (Kelemahan)

1.        Kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya local sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya lokal juga harus dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman,  asalkan masih tidak meninggalkan ciri khas dari budaya tersebut.
2.        Minimnya komunikasi budaya, menyebabkan terjadinya salah paham tetang budaya yang dianut. Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan perselisihan antarsuku yang berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.
3.        Kurangnya pembelajaran budaya, yang seharusnya ditanamkan sejak usia dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

 

Opportunity (Peluang)

1.        Indonesia dipandang dunia Internasional karena kekuatan budayanya. Apabila budaya lokal dapat dijaga dengan baik, Indonesia akan dipandang sebagai negara yang dapat mempertahankan identitasnya di mata Internasioanal.
2.        Kekuatan budaya bangsa dapat memperkokoh rasa persatuan. Usaha masyarakat dalam mempertahankan budaya lokal dapat memperkokoh budaya bangsa, juga dapat memperkokoh persatuan. Karena adanya saling menghormati antara budaya lokal sehingga dapat bersatu menjadi budaya bangsa yang kokoh.
3.        Kemajuan pariwisata budaya local Indonesia sering kali menarik perhatian para turis mancanegara. Artinya, budaya local dapat dijadikan objek wisata yang akan menghasilkan devisa bagi negara. Akan tetapi hal ini juga harus diwaspadai karena banyaknya aksi pembajakan  budaya yang mungkin terjadi.
4.        Multikulturalisme; dalam artikelnya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Univ. Lancang Kuning Riau, Dr Junaidi SS M.Hum, mengatakan bahwa multikulturalisme memberikan peluang bagi kebangkitan etnik dan budaya lokal Indonesia. Dua pilar yang mendukung pemahaman ini adalah pendidikan budaya dan komunikasi antar budaya.

Threatment (Tantangan)

1.        Perubahan lingkungan alam dan fisik menjadi tantangan tersendir bagi suatu negara untuk mempertahankan budaya lokalnya. Karena seiring perubahan lingkungan alam dan fisik, pola pikir serta pola hidup masyakat juga ikut berubah.
2.        Meskipun dipandang banyak memberikan manfaat, kemajuan teknologi ternyata menjadi salah satu factor yang menyebabkan ditinggalkannya budaya lokal. Misalnya, sistem sasi (sistem asli masyarakat dalam mengelola sumber daya kelautan/daratan) dikawasan Maluku dan Irian Jaya. Sistem sasi mengatur tata cara serta musim penangkapan ikan di wilayah adatnya, namun hal ini mulai dilupakan oleh masyarakatnya.
3.        Masuknya budaya asing menjadi tantangan tersendiri agar budaya lokal tetap terjaga. Dalam hal ini, peran budaya lokal diperlukan sebagai penyeimbang di tengah perkembangan zaman.

Indonesia memiliki kebudayaan lokal yang bervariasi.  Kebudayaan tersebut telah menjadi jati diri sebagai bangsa Indonesia. Dunia internasional mengenal Indonesia salah satu nya dari keanekaragaman budaya yang dimiliki. Budaya lokal harus dijaga agar dapat memperkokoh ketahanan budaya bangsa. Harus dipahami arti kebudayaan serta menjadikan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia sebagai sumber kekuatan untuk ketahanan budaya bangsa. Juga diperlukan pula antisipasi atau cara-cara agar budaya lokal tidak bercampur dengan budaya asing.

Secara umum

Kebudayaan Dan Kepribadian saling memiliki keterkaitan dalamkehidupan sehari-hari setiap manusia. Dan pada dasarnya manusia adalah makhluk sosialyang saling berinteraksi satu sama lain dengan kata lain manusia itu sendiri salingmebutuhkan dan tidak akan mungkin untuk hidup sendiri atau individu.Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah,yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-halyang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaandisebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere,yaitu mengolah ataumengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.

Katculture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.Sedangkan Kebudayaan itu sendiri dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah“puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada pahamkesatuan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan.Di era globalisasi ini banyak sekali budaya asing terutama budaya barat yangmasuk ke dalam negri dan mempengaruhi kepribadian kita, yang tidak sesuai dengannorma dan ajaran yang kita anut di indonesia. Untuk itu kebudayaan apa yang akan kitaambil itu akan sangat mempengaruhi kepribadian kita.

1.2. Tujuan

Makalah ini dibuat bertujuan membantu memberikan gambaran dan pemahamankepada siapapun tentang pengaruh budaya terhadap kepriabdian seseorang. Serta untuk memenuhi tugas kuliah dan mendapatkan nilai yang memuaskan dalam mata kuliah IlmuBudaya Dasar.Budaya yang bauk akan berperan dalam pembentukan jati diri yang baik pula diaakan bertindak sesuai dengan budaya yang baik, serta memberikan pengaruh positif padadiri kita yang dapat kita rasakan bersama, budaya yang baik dan di anut oleh indonesiayaitu sesuai dengan Undang-undag dasar yang menjadi landasan dan akar dari bangsa.Kemudian tujuan lain yang tidak kala pentingnya adalah, agar kita semakin kreatif dan mampu mengungkapkan sesuatu secara ilmiah yang dituangkandalam bentuk makalah kali ini. Yang sebagaimana kita juga sedang dipersiapkanuntuk melanjutkan ke tingkatan yang lebih lanjut lagi.

1.3. Sasaran

Di dalam kehidupan individu kepribadian itu selalu berkembang dan mengalamiperubahan-perubahan, akan tetapi di dalam perubahan itu terlihat adanya pola-polatertentu yang tetap. Makin dewasa individu makin jelas pula polanya dan jelaspula adanya stabilitas. Perlu disadari bahwa kebudayaanlah yang membentuk karakter kepribadian seseorang, dan setiap daerah memiliki budaya yang berbeda. oleh karenaitu hendaklah kita menjaga kebudayaan yang ada agar cirri khas bangsa Indonesiatidak terhapus oleh kebudayaan bangsa lain.

Tujuan Kebudayaan

Secara umum tujuan dari pembelajaran kebudayaan adalah untuk mengembangkan kepribadian kita dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikal kita terhadap nilai budaya, baik menyangkut orang lain dan alam sekitarnya maupun yang menyangkut dirinya sendiri. Kebudayaan juga merupakan ilmu untuk mengenali perilaku sendiri dan orang lain.

Untuk memahami manusia, tidaklah bisa semata-mata mengetahui kondisi satu orang saja (Klineberg, 1974 dalam Meinarno 2011). Kepriadian tidak muncul dengan sendirinya. Ia dibentuk oleh banyak hal yang masing-masing mempunyai bobot yang juga berbeda-beda. Seperti Kurt Levin (dalam Meinarno, 2011) sebutkan bahwa tingkah laku merupakan hasil dari fungsi lingkungan dan kepribadian. Merujuk pada psikologi, kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu yang terdiri atas system psiko-fisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik (khusus) dari individu terhadap lingkungannya (Allport, 1961 dalam Meinarno, 2011).

Faktor lingkungan memiliki kontribusi yang luar biasa. Lingkungan yang diperhatikan tidak hanya lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan social yang amat dinamis.

Kontribusi lingkungan pada individu semasa kecil tentunya amat luar biasa. Sebagai bayi yang nyaris tidak berdaya, ia diasuh, dibimbing, dan dibina oleh ayah, ibu, dan saudaranya, dan bahkan tetangga di sekitarnya, banyak perihal kelakuan yang perlahan ia perhatikan dan tanpa terasa dianut oleh dirinya. Pengalaman dalam berinteraksi dengan sekeliling menjadi modal masuknya pola-pola kehidupan yang membentuk kepribadian. Uniknya, ketika hal ini dilakukan dalam suatu masyarakat, akan terlihat pola umum yang kemudian dapat menjadi penanda atas kelompok tersebut di kemudian hari (Meinarno, 2011).

Dengan posisi demikian strategis, pihak di luar individu, khususnya yang terdekat, yakni keluarga, para antropolog melihat pola asuh merupakan pintu masuk utama dalam pembentukan kepribadian individu. Para antropolog memperhatikan adat pengasuhan dari kelompok-kelompok masyarakat. Gejala bahwa adanya hubungan antara kebudayaan dan individu, khususnya kepribadian telah menjadi perhatian para ahi antropologi-psikologi.

Bagi peneliti masyarakat, khususnya psikologi, teori kepribadian yang diajukan oleh Sigmund Freud (1858-1939) adalah sebuah gebrakan. Teori tentang kepribadian manusianya sangat mengejutkan, sampai-sampai para pendukungnya menyetujui bahwa teorinya bersifat universal. Artinya, di dalam berbagai bentuk masyarakat teorinya dapat digunakan. Salah satunya yaitu Oedipus Complex (rasa cinta anak lelaki terhadap ibunya).

Konsep Oedipus Complex; diungkapkan oleh Sigmund Freud sebagai bentuk kecemburuan anak lelaki terhadap ayah yang mencintai objek cinta yang sama, yakni Ibu. Dalam dongengnya dikisahkan bahwa seorang pemuda – Odipus – menikahi ibunya sendiri dengan terlebih dahulu membunuh ayahnya. Ia tidak mengetahui bahwa yang ia bunuh adalah ayah kandungnya dan tanpa mengetahui juga bahwa perempuan yang kemudian ia nikahi adalah ibunya sendiri alias istri dari lelaki yang dibunuhnya (Gonick, 2007 dalam Meinarno, 2011).

Kisah yang mirip terdapat di lingkungan Sunda dengan judul Sangkuriang. Dayang Sumbi, ibunya Sangkuriang, suatu ketika ingin makan dengan hati kijang. Maka disuruhlah Sangkuriang untuk berburu kijang, untuk diambil hatinya saja. Setelah berkeliling hutan sekian lama, tidak ditemukan juga kijang, maka Sangkuriang merasa pesimis untuk memberikan persembahan hati kijang kepada sang bunda. Saat ia sedang melamun, muncullah seekor anjing (si Tumang) mendekat Sang Kuriang, ia berpikir sejenak kiranya anjing pun boleh juga diburu, sebab yang akan dipersembahkan kepada ibunya hanya hati anjing tersebut sebagai pengganti hati kijang. Maka diburulah anjing tersebut, setelah terbunuh diambillah hatinya. Hati anjing tersebut kemudian ia persembahan kepada ibunya. Saking gembiranya, Dayangsumbi tidak bertanya dimana diperoleh, atau hati apa yang anaknya persembahkan tersebut. Setelah kenyang dengan masakan hati anjing, barulah Dayangsumbi menanyakan, dimana diperoleh hati itu, dan hati apa yang dipersembahkan anaknya kepada dia, sebab beda sekali rasanya dengan hati kijang yang biasa ia makan. Mendengar jawaban Sang Kuriang, bahwa hati itu diperoleh di hutang larangan, dan bukan hati kijang melainkan hati anjing, murkalah Dayangsumbi, dengan marah Sangkuriang dipukul kepalanya dengan gayung, sehingga menimbulkan cacat di kepala Sangkuriang.

…… cerita selanjutnya Sangkuriang kabur, hingga satu saat dipertemukan kembali, dengan Dayangsumbi yang masih dalam keadaan cantik dan masih muda. Maka, terjadilah kisah cinta Sangkuriang dan Dayangsumbi yang berakhir dengan ditendangnya perahu oleh sangkuriang, kemudian melayang dan menelungkup `nangkub`, yang kemudian dikenal dengan Gunung Tangkuban Perahu.

Tujuan lain dari kebudayaan adalah supaya kita mempelajarinya (khusunya) mampu bersikap luwes setelah mengetahui jiwa dan perasaan manusia. Tanggap terhadap hasil budaya manusia secara lebih mendalam. Memiliki penglihatan yang jelas Dan pemikiran yang mendasar serta mampu menghargai budaya di sekitarnya dan ikut serta mengembangkan budaya bangsa. Supaya tidak terjatuh kepada sifat kedaerahan jika menjadi seorang pemimpin (Mujianto dkk.,2010) .

 

Kaidah-kaidah Kebudayaan

Kebudayaan merupakan bagian dan menjadi milik masyarakat manapun di dunia ini. Perbedaannya terletak pada kebudayaan masyarakat yang satu lebih sempurna daripada kebudayaan masyarakat lain, di dalam perkembangannya untuk memenuhi segala sesuatu keperluan masyarakatnya.

            Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang di pelajari dari pola-pola perilaku yang normative. Artinya mencakup segala cara-cara atau pola-pola berfikir, merasakan dan bertindak. Kebudayaan mengatur manusia untuk bertindak. Kebudayaan melahirkan kaidah-kaidah untuk melindungi masyarakat dari kehancuran yang diakibatkan oleh kekuatan-kekuatan yang tersembuyi di masyarakat. Kaidah ini berupa petunjuk cara-cara bertingkah laku di dalam pergaulan hidup. Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, dan menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Kebiasaan merupakan suatu perilaku pribadi. Pribadi berarti bahwa kebiasaan seseorang itu berbeda dari peri kebiasaan orang lain, walaupun misalnya mereka hidup dalam satu wilayah.

            Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri atau dibangun oleh banyak unsure. Para ahli mencoba mengklasifikasikan terdiri dari unsur-unsur besar dan unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan.

            Manusia adalah jenis makhluk yang hidup dalam kolektif, maka pengetahuan mengenai azas-azas hidup kolektif yang sebenarnya telah dapat kita pelajari pada berbagai kehidupan binatang. Meskipun terdapat perbedaan azasi yang sangat dasar antara kehidupan kolektif binatang dan kehidupan kolektif manusia, yaitu bahwa system pembagian kerja, aktifitas kerjasama, serta berkomunikasi dalam kehidupan kolektif binatang bersifat naluriah, yaitu merupakan suatu kemampuan yang telah terencana oleh alam dan terkandung dalam gen jenis binatang yang bersangkutan, sedangkan system pembagian kerja, aktivitas kerjasama, serta berkomunikasi dalam kehidupan kolektif manusia bukan bersifat naluriah. Hal ini disebabkan Karena organisme manusia mengevolusi otak yang khas.

E. B.Taylor (1871 dalam Ratna, 2010) mendefinisikan kebudayaan sebagai kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain, kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Dalam memperluas wawasan mengenai definisi dan konsep kebudayaan dari Taylor ini dapat disimak lebih lanjut mengenai kebudayaan sebagai berikut :

  1. Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks. Hal ini berarti bahwa kebudayaan merupakan suatu kesatuan dan bukan jumlah dari bagian-bagian. Keseluruhan mempunyai pola-pola atau desain tertentu yang unik. Setiap kebudayaan mempunyai mozaik yang spesifik.
  2. Kebudayaan merupakan suatu prestasi kreasi manusia yang bukan material, artinya berupa bentuk-bentuk prestasi psikologis seperti : ilmu pengetahuan, kepercayaan dan seni.
  3. Kebudayaan dapat pula berupa fisik seperti hasil seni, terbentuknya kelompok-kelompok keluarga.
  4. Kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah seperti hukum, adat istiadat yang berkesinambungan.
  5. Kebudayaan diperoleh dari lingkungan.
  6. Kebudayaan tidak terwujud dalam kehidupan manusia yang soliter atau terasing tetapi yang hidup dalam suatu masyarakat tertentu.

Implikasi dari beberapa pengertian kebudayaan menurut Taylor adalah :

  1. Adanya keteraturan dalam hidup bermasyarakat
  2. Adanya proses pemanusiaan
  3. Didalam proses pemanusiaan itu terdapat suatu visi tentang kehidupan

Kuntjaraningrat (1997) menyatakan bahwa suatu system nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. System nilai budaya ini demikian kuatnya meresap dan berakar dalam jiwa masyarakat sehingga sulit diganti atau dirubah dalam kurun waktu yang singkat.

System nilai budaya adalah tingkat tertinggi yang paling abstrak dari adat istiadat. Suatu system nilai budaya seringkali merupakan suatu pandangan hidup. Pandangan hidup biasanya mengandung sebagian dari nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, dan yang lebih dipilih secara selektif oleh individu-individu dan golongan-golongan dalam masyarakat.

System nilai budaya berupa abstraksi yang tidak mungkin ditemukan seratus persen telah dihayati atau menjiwai nilai-nilai dominant yang persis sama dengan apa yang ada di dalam masyarakat tertentu. System nilai budaya dalam masyarakat dimanapun didunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :

a. Hakikat Hidup Manusia

b. Hakikat Karya Manusia

c. Hakikat Waktu Manusia

d. Hakikat Alam Manusia

e. Hakikat Hubungan Manusia

 

Bahan Bacaan Rujukan:

Kellner, Douglas. 2010. Budaya Media. Yogjakarta: Jalasutra.

Koentjaraningrat, 1997. Pengantar Antropologi (Pokok-pokok Etnografi). Jakarta: RinekaCipta.

Meinarno dkk., 2011. Manusia dalam kebudayaan dan Masyarakat. Jakarta: Salemba Humanika.

Muhadjir. 1987. Evaluasi dan Strategi Kebudayaan. Jakarta: UI Press.

Mujianto dkk., 2010. Ilmu Budaya. Semarang: Pelangi Publishing.

Ratna, Nyoman Kutha. Metodologi Penelitian Kajian Budaya. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

Thorbham, Sue. 2010. Teori Feminis dan Cultural Studies. Yogjakarta: Jalasutra.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s