Costume Carnival – Jakarta Fashion Food Festival 2013

IMG_6837

Keikut sertaan Mahasiswa Kriya Tekstil Mode STISI Telkom dalam mengikuti Lomba Kostum Karnaval yang diselenggarakan oleh PT. Summarecon Tbk, ternyata membuahkan hasil. Ini adalah tahun ke-3  STISI Telkom mengikuti ajang kreatifitas ini. Adapun perolehan prestasi yang dicapai adalah Juara II Kostum  Pesona Dewataku oleh mahasiswa Kriya Tekstil Mode 2012. Juara III Minangkabau  diperoleh pula mahasiswa Kriya Tekstil Mode 2011 STISI Telkom. Selamat atas Kreasinya!

IMG_6829

Meningkatkan Kemampuan Mental

Penelitian Ilmiah terhadap otak telah membawa hasil yang mencengangkan, cara baru untuk menghasilkan dan memfokuskan kemampuan ilmiah, tetapi tidak disadari, ditemukan di setiap bidang penelitian biologis dan psikologis.
Hubungan dua penemuan ini bagi orang kebanyakan tidak tampak, tetapi jika diterapkan dengan benar, pandangan ilmiah baru ke dalam pemanfaatan pikiran dapat membantu anda melipatgandakan bahkan mengoptimalkan kekuatan pikiran.
Dengan menerapkan temuan terobosan ini, anda mungkin dapat mengoptimalkan pula :
1. Kekuatan Belajar
2. Kekuatan Mengingat
3. Kekuatan Membaca
4. Kekuatan Mendengar
5. Kekuatan Berfikir

Semua ini mungkin terlihat sempurna, tetapi sesungguhnya ilmu pengetahuan telah mengungkapkan banyak metode yang akan menghasilkan semua kekuatan itu.

Ragam Hias Daerah Indonesia

1. Seni Ragam Hias Kalimantan Timur : Anjing Berbadan
Naga
2. Seni Ragam Hias Riau : Ayam Berlaga
3. Seni Ragam Hias Kalimantan Selatan : Buaya
4. Seni Ragam Hias Sulawesi Tenggara : Bunga dan Burung
5. Seni Ragam Hias Sumatera Selatan : Bunga Teratai
6. Seni Ragam Hias Bengkulu : Daun Si Dingin
7. Seni Ragam Hias Sulawesi Selatan : Geometris Toraja
8. Seni Ragam Hias DIY : Gunungan
9. Seni Ragam Hias Bali : Lembu
10. Seni Ragam Hias Sumatra Barat : Limpapeh
11. Seni Ragam Hias Papua : Mbitoro
12. Seni Ragam Hias Jawa Tengah : Parang Rusak
13. Seni Ragam Hias Jawa Barat : Pemandangan
14. Seni Ragam Hias DKI Jakarta : Pemecah Pinang
15. Seni Ragam Hias DI Aceh : Pilin Berganda
16. Seni Ragam Hias Kalimantan Tengah : Pohon Hayat
17. Seni Ragam Hias NTT : Pohon Tengkorak
18. Seni Ragam Hias Sumatra Utara : Reret Singa-singa
19. Seni Ragam Hias Maluku : Sayap Bidadari
20. Seni Ragam Hias Lampung. : Sigar
21. Seni Ragam Hias Sulawesi Tenggara : Tempay Gula
22. Seni Ragam Hias NTB : Tempat Jimat
23. Seni Ragam Hias Jambi : Tiga A
24. Seni Ragam Hias Kalimantan Barat : Topi Panjang
25. Seni Ragam Hias Jawa Timur : Ular Naga Laut
26. Seni Ragam Hias Sulawesi Utara : Tou

Kajian Batik Kawung II

Tugas Uas Filsafat ( Prof. Drs. Jakobus Sumardjo )

Pemberian nama serta makna dalam motif kawung memiliki beberapa konsep yang melatar belakangi, diantaranya:

Konsep pertama:

Adanya faham animisme, yaitu sebuah wawasan masyarakat Jawa kuno tentang pemahaman alam dan yang diketahui melalui sejarah jaman nenek moyang. Masyarakat Jawa menempatkan alam (mikrokosmos) bersama-sama dengan pemahaman alam (makro-kosmos) . Masyarakat Jawa percaya dan memiliki keyakinan terhadap hal titisan dewa,serta percaya adanya roh-roh nenek moyang menyebabkan terjadinya proses-proses alam yang diakibatkan olehnya, sehingga perlu adanya keseimbangan antara mikro-kosmos dan makro-kosmos dengan jalan   mengadakan persembahan kepadanya. Masyarakat Jawa percaya bahwa manusia memiliki jiwa yang dapat meninggalkan tempatnya serta dapat  memasuki makhluk atau dunia lain.

Jiwa manusia merupakan pelaku aktivitas spiritual yang dapat mencapai taraf tertentu atau yang paling tinggi tergantung dari manusianya. Persoalan kematian bagi masyarakat Jawa inilah menjadi konsep keberlanjutan hidup dan kekekalan yang diyakini selalu ada serta harus dijalankan.Wund dan Spencer mengatakan bahwa produk psikologis yang tak terelakkan dari kesadaran tersebut menciptakan mitos (Freud, 1918: 124).Bagi masyarakat Jawa produk psikologis yang difahami membentuk sebuah kepercayaan bahwa roh raja akan selalu menjadi dewa-dewa dialam lain (maya-padya), sehingga adatkebiasaan serta berbusana raja dimadya-akan selalu termanifestasikan ke dalam busana para dewa dewa.

Konsep kedua :

Konsep kedua, adanya paham dinamisme yang menganggap bahwa roh-roh nenek moyang ada di dalam benda-benda mati, sehingga benda benda mati memiliki kekuatan kekuatan magis serta  dapat dimanfaatkan oleh manusia sesuai tujuan dan harapannya. Adapun tujuan sangatlah beragam, misalnya ada yang dimanfaatkan untuk tujuan kebaikan, dan ada juga yang memiliki tujuan untuk kejahatan.

Kedua tujuan ini tidak dapat dipisahkan serta saling menyatu dalam kehidupan. Menurut Levi Strauss  (Ahimsa, 2000: 70-71) , konsep oposisi dinamakan binary oposition, yaitu sebuah konsep oposisi yang berpasangan, misalnya ada siang dan malam, ada gelap dan terang, ada hitam dan putih. Dalam cerita pewayangan, konsep tersebut selalu menyertai dalam berbagai hal serta kehidupan masyarakat Jawa, juga keyakinan akan magis yang selalu ada di dalam benda magis seperti keris dengan berbagai pamornya dan benda lainnya dapat dilihat dalam konsep pembuatan motif kawung. Misalnya Kawung Sari, Kawung Sekar Ageng, Kawung Kembang, kesemuanya dimaksudkan adanya kekuatan magis, sehingga yang memakai mengharapkan dapat tercapai tujuan yang diinginkan.

Analisis Feminisme Fashion Street Style(K-Pop)

Tugas Uas Teori Kritis ( Dr. Jaeni B Wastap, M.Si )

Menyimak perkembangan street style di Indonesia layaknya ikon yang dapat terpengaruh dengan mudah. Media merupakan sosialisasi empuk bagi masyarakat konsumtif Indonesia. Dalam kurun waktu tidak lama, K- Pop seperti Gurita dengan mudah bergerilya sampai ke ranah psikologis terkecil seperti anak-anak.

Masyarakat Indonesia dengan tindakan sosial dilatar belakangi motif yang mendasarinya sehingga terwujud dalam tindakan nyata. Motif budaya yang dimaksud disini penekanannya pada aspek fashion/berpakaian. Tindakan social yang mencirikan pola konsumtif lebih mengarah kepada kapitalisme, namun tidak disadari oleh masyarakat itu sendiri. Pemicu utamanya adalah pandangan sosialis masyarakat terhadap media sebagai kekuatan social yang berorientasi pada konsumerisme. Tak dapat dipungkiri, kekuatan social mendominasi seluruh kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

Sistem produksi media inilah yang mempengaruhi kehidupan social masyarakat Indonesia, dikonstruksikan oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman mengenai dampaknya di masyarakat.

Media mendominasi suatu kesadaran tindakan dalam masyarakat, di tempat bekerja, dalam keluarga melalui proses sosialisasi. Kesadaran ini memberikan perubahan dalam berperilaku. Ruang lingkup perilaku social tak pernah lepas dari subyeknya di dunia ini, adalah laki-laki dan perempuan, sebagai mahluk social di masyarakat.

K-Pop adalah sosialisasi kapitalisme di masyarakat, cenderung mewakili asumsi pola pikir konsumtif terutama remaja. Kesadaran aktualisasi diri agar dapat diterima di masyarakat sebagai bentuk toleransi pergaulan dimana manusia beraktivitas.

Segmentasi K-Pop adalah remaja terutama perempuan yang mempunyai kesadaran pemikiran secara social kritis. Dimana terdapat kesadaran, pergaulan dan arus informasi yang membuat perempuan Indonesia terinspirasi menunjukan subyektifitasnya untuk berkembang.

K-  Pop adalah street style, sebagai protes kemapanan yang ditunjukan di dalam fashion , Indonesia dalam hal ini ditinjau dari analisis feminism dapat diterapkan dalam soal-soal keseharian. Fashion street style di Indonesia sebagai representasi simbolik atas perubahan social dalam hal peran eksistensi perempuan.

Fashion menciptakan citra-citra ideal tentang feminitas yang digunakan untuk mempertahankan kaum perempuan di tempat mereka, sebagai upaya menimbulkan perubahan social melalui pembaruan busana.

Sesuai hasil wawancaranya , Carol Gilligan ( 1993 )  mengemukakan, wanita mempunyai dorongan moral yang menonjol untuk menunjukan kepedulian secara konkret berfokus pada kebutuhannya dalam rangka menciptakan hubungan social yang berdasarkan prinsip keadilan social sebagai kepekaan pada kondisi tertentu.

Untuk menunjukan kepekaannya, beberapa obyek dibubuhi dengan identitas gender yang tampak bersifat ilmiah, namun dalam masyarakat kita sekarang, terdapat banyak produk yang terlalu dipaksakan sebagai strategi mengembangkan pasar melalui pengenalan terhadap kebaruan dan penganekaragaman produk fashion.

Tetapi perempuan tidak terlahir dengan kemampuan alami untuk menjadi konsumen,  itu merupakan keahlian yang dipelajari bersama-sama dengan pembentukan selera melalui satu proses, kendati selera agaknya merupakan perkara murni individual. Terutama fashion dalam K- Pop  di Indonesia, para perempuan memperoleh keahlian mendiskriminasi mereka melalui sejumlah saluran budaya : Kelompok sebaya, majalah gadis dan perempuan, media dan iklan pada umumnya.

Fenomenologi Seniman Indonesia dalam Karya Seni

Tugas Uas Filsafat Ilmu ( Benni Yohanes, S.Sen, M.Hum )

Dalam berkarya, seniman  menggabungkan kreatifitas, fisologis dan tekstual sehingga menghasilkan sebuah estetika migrasi. Adapun sebelum melangkah menuju prosesi berkarya, dapat disimak bagan berikut dibawah ini :

Pada Bidang A1-B1, C1-C2 ; Sublimasi Budaya sebagai Strategi Mengindonesia , Melakukan sintesis  pemahaman antara sikap filosofis seniman yang menghasilkan pemahaman sublimatif budaya asal, dimana sublimasi itu dilihat sebagai modus produksi budaya yang terbentuk dari strategi praktik dalam arena keindonesiaan.

Pada Bidang  A2-B2, C3-C4 ; Estetika Migrasi sebagai Identitas Keindonesiaan , Melakukan teorisasi kreativitas seni sebagai bentuk estetika migrasi, yang telah memberi pengaruh dalam membentuk identitas keindonesiaan, dimana konsep estetika migrasi tersebut merupakan respon terhadap habitus melalui penggunaan kapital simbolik yang dimiliki seniman sebagai seniman modern Indonesia.

Dialektika yang terjadi pada seniman, terutama penggabungan ego ekletikisme sebagai visualisasi estetika bersumber pada sebuah kategori fundamental dalam pemikiran eksistensialisme, menjelaskan suatu fondasi ontologisme melandasi keberadaan mahluk atau objek-objek sehingga Ada ( Being ).

Migrasi fisik yang terjadi merupakan perkembangan seniman sebagai representasi atas pengalaman objektivikasi  komodifikasi karya seni. Proses objektivikasi ini melibatkan hubungan diantara subjek ( yang dalam hal ini adalah manusia, dan biasanya bersifat kolektif ), kebudayaan sebagai bentuk eksternal dan artefak sebagai objek ciptaan manusia.

Dalam kaitan ini, subyek mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaan objek-objek, yang dimaksudkan untuk menciptakan diferensiasi ( penciptaan perbedaan objek-objek sebelumnya ) dan kemudian menginternalisasikan ( mengembalikan pada diri ) nilai-nilai ciptaan tersebut melalui proses sublasi atau pemberian pengakuan ( Ada – Being ).

Proses sublasi ini sang subjek selalu merasa tidak puas dengan hasil ciptaannya sendiri. Oleh karena itu, ia selalu membandingkan hasil karyanya dengan pengetahuan dan nilai absolute, yang justru beranjak lebih jauh tatkala ia didekati.

Adalah rasa ketidakpuasan abadi terhadap hasil karya yang membangkitkan motivasi dan daya yang tak habis-habisnya bagi pengembangan lebih lanjut dalam suatu dialektika penciptaan.

Konkretisasi ontology epistemic yang direfleksikan  menjadi estetika logika,presentasional structural yang direfleksikan pula menjadi intertekstual linguistic, serta sejarah ideology sebagai response perilaku psikologis semua tidak dapat terlepas dari gaya individu walaupun ia telah melalui migrasi fisik.

Gaya individu merupakan perpaduan elemen- elemen formal dan tematik secara khusus sekaligus merupakan wacana ideology. Dimana individu dapat mengekspresikan cara mereka mengkaitkan kehidupan mereka dengan kondisi eksistensi mereka. Ideologi visual berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dari gaya suatu kelompok social. Menyiratkan adanya perjuangan kelas yang abadi melalui visual.

Gaya melalui peranannya bersifat pluralistic dan indeterminan, merupakan suatu bentuk sinkretisme, yaitu penyerapan berbagai elemen gaya yang berasal dari berbagai seniman, kebudayaan, periode, atau ideology yang berbeda, bahkan bersifat kontradiktif satu sama lainnya menjadi satu ramuan gaya baru.

PEMBAHASAN

Keterkaitan teori fenomenologis seniman adalah antara Ontologi Migratif,  Realisasi Dasein, dan hubungan migrasi fisik  dan migrasi identitas seniman dalam intrepretasi data sehingga memunculkan analisis data dalam teori produktivitas budaya di Indonesia.

Visualisasi produktivitas budaya adalah berupa karya seni yang terdapat di dalamnya suatu objek sebagai hasil migrasi dari seniman sebagai identitas dirinya. Karya seni  pada khususnya terdapat kebebasan untuk berkarya melawan kecenderungan alamiah dari material dan teknik, jika mereka menginginkannya demikian.

Seniman sebagai ‘ orang tengah ‘ sosok yang memediasi antara penghasil karya dan public. Kebebasan kreatif seniman terbatasi oleh serangkaian prakondisi dan batasan – batasan financial, teknis, temporal, estetis yang ditimpakan oleh klien dan pasar.

Mendukung figuritas  seniman sebagai ideology individualism adalah konsepsi simplisitis mengenai subyek manusia ; satu obyek penyatu yang entah bagaimana berkembang dan berfungsi secara terpisah atau bahkan beroposisi terhadap masyarakat.

Pandangan Marxisme menarik perhatian determinan ekonomi dan ideologis perilaku serta pemikiran manusia; psikoanalisis memperlihatkan bahwa fikiran seniman dalam hal ini manusia terbagi ( sadar dan tidak sadar ), dikuasai beragam dorongan tersembunyi dari berbagai kompleks.

Salah satu efek samping negative ideology individualism adalah mengaburkan sifat dasar social produksi seni dan desain. Para seniman sudah sering dikatakan sebagai pemberontak artikepal terhadap masyarakat. Sama absurdnya dengan perkembangan bahasa untuk diidentifikasi dalam menilai sebuah karya seni.

Perkembangan  karya seni bersifat social dapat ditinjau dengan alasan sebagai berikut :

  • Seniman memiliki keuntungan pendidikan di akademisi desain dan teknik yang disediakan oleh masyarakat secara keseluruhan
  • Pengaruh kontemporer ( beberapa seniman melepaskan diri dari pengaruh kelompok tertentu atau trend dan gaya mutakhir )
  • Kekuatan tradisi dan panutan ( karya seni baru selalu bergantung dalam beberapa taraf, pada akumulasi pengetahuan dan pencapaian generasi-generasi pertama )
  • Karakter social ‘ bahasa ‘ seniman, kode dan gaya ( merupakan produk kelompok, mereka berkembang selama berabad-abad)
  • Kebergantungan seniman terhadap klien dapat terjadi dan konsumen tanpanya produksi berskala besar akan mustahil dilakukan.

Selain kuatnya sindrom ‘ seniman besar ‘ dalam wacana seni, meski terdapat banyak kririk diatasnya, adalah bahwa ideology individualism dan konsepsi Romantisisme tentang seniman masih kuat dalam bisnis dan media massa, di kalangan desainer dan konsumen.

Karena itu, seniman dipromosikan sebagai figure kharismatik sebagai “ daya jual’ karya mereka. Beberapa karya diantu oleh label-label yang membawa nama ( sama dengan tanda tangan seniman pada kanvas ), bahkan jika label tersebut, kenyataannya sebuah merek dagang, atau korporasi.

DAFTAR  PUSTAKA

Denise,Schmandt-Besserat , 2007, When Writing Met Art, Texas, Austin.

John Walker, , 2010, Desain, Sejarah, Budaya, Yogyakarta, Jalasutra.

Noel Carrol, , 2002, Philosphy Of Art, London, Routledge.

Yasraf Amir Piliang, 2003, Hipersemiotika, Yogyakarta, Jalasutra.

Trend Forecast ( Desain Sebagai Praksis )

Tugas P Cecep Uas( Prof. Dr. Tjetjep Rohendi Rohidi, M.A )

Fashion benar-benar merupakan antusiasme berumur pendek, kegandrungan, keranjingan atau mode, atas sesuatu. Sebaliknya gaya merupakan bentuk desain dengan karakter yang jelas, sebuah gaya bisa saja menjadi sesuai dengan mode terkini ( fashionable ),namun bisa  juga sebaliknya.

Fashion dapat merujuk kepada banyak macam perilaku manusia namun paling sering merujuk pada antusiasme akan model khusus pakaian: industry fashion adalah sektor komersial yang diperuntukan bagi desain, manufaktur dan penjualan pakaian untuk penggunaan sehari-hari maupun waktu senggang.

Industri fashion memiliki kepentingan tetap dalam dinamika fashion dikarenakan perubahan iklim, memastikan produksi konstan dan profitabilitas. Dengan secara berkala memperkenalkan lini baru, para desainer membuat fashion yang ada menjadi ketinggalan zaman, dengan demikian menciptakan ketidakpuasan pelanggan dengan sesuatu yang sudah mereka miliki.

Terdapat perbedaan dalam fashion, pakaian non atau anti-fashion; yaitu pakaian yang mengabaikan dinamika perubahan terus menerus. Misalnya pakaian pelindung industrial yang didesain semata untuk fungsi dan bertahan selama mungkin. Tipe pakaian klasik tertentu, misalnya pakaian bergaris-garis yang dikenakan pria kota, menolak siklus fashion.

Bentuk pakaian semacam dijuluki ‘ abadi ‘ (timeless ), meskipun kenyataannya pakaian tersebut dapat berubah dengan secara perlahan berevolusi selama sekian tahun. Disebabkan, fashion, gaya berkaitan erat dengan penampilan dan perilaku orang-orang, harus dipusatkan perhatian terhadap isu konsumsi, penerimaan dan selera konsumen.

DESAIN SEBAGAI PRAKSIS

            Dunia fashion selalu terlibat dalam 3 kata kunci:  trend, busana dan bahan. Setiap perkembangan dalam ruang lingkup fashion tidak pernah terlepas dari trend yang berlaku pada masa atau waktu, busana yang dirancang atau digunakan apakah sesuai dengan trend , serta bahan atau material yang digunakan apakah sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Untuk terus berkecimpung didunia fashion, hal utama yang perlu dilakukan adalah Forecast ( Ramalan ) mengenai keseluruhan unsure-unsur dalam fashion. Permasalahan fashion sebagai desain praksis berawal dari :

1.      Forecast Analyse

Mengetahui informasi yang berkaitan dengan dunia fashion selain berasal dari para desainer fashion, marketing fashion, purchasing, pelaku bisnis,juga media.

2.      Synthetic Analyse

Memahami informasi berdasarkan forecast fashion untuk kemudian diaplikasikan dalam proses desain sebagai solusi dari permasalahan trend dalam bentuk rancangan fashion (busana, aksesoris ).

3.      Evaluation Analyse

Mengambil keputusan secara tepat berdasarkan hasil analisis dan sintesis forecast berdasarkan kemampuan produksi untuk rancangan fashion selain berdasarkan pertimbangan objektif pula.

Keindahan dalam Feminisme

Keindahan sejak dahulu telah mengalami pergulatan makna, dari Aristoteles, Thomas Aquinas, George Santayana hingga Hebert Read. Aristoteles dalam bukunya Rhetorica merumuskan keindahan dalam kalimat “ that which being good is also pleasant “ ( sesuatu yang selain baik juga adalah menyenangkan ). Thomas Aquinas merumuskannya sebagai “ id quod visum placet “ ( that which pleased upon being seen atau sesuatu yang menyenangkan ketika dilihat ), Charles J. Busnell memberikan definisi keindahan sebagai “ that quality which brings intense appreciation of value or inspiring ideals “ ( kualitas yang mendatangkan penghargaan yang mendalam tentang berbagai nilai atau ideal yang membangkitkan semangat).

Sedangkan filsuf Italia,Benedetto Croce merumuskan keindahan sebagai “ the succesfull expression of an intuition “ ( pengungkapan yang berhasil dari suatu intuisi ), Immanuel Kant, filsuf jerman memberi definisi keindahan sebagai sesuatu yang menyenangkan tidak melalui kesan ataupun konsep, melainkan dengan kemestian yang subjektif dalam suatu cara yang seketika, semesta dan tidak berkepentingan.

Eric Newton dalam The Meaning of Beauty (1950 ) memberi makna keindahan adalah segi dari gejala-gejala yang ketika diserap oleh indera-indera dan selanjutnya diteruskan kepada daya pemikiran dari penyerapan itu, mempunyai kekuatan membangkitkan tanggapan-tanggapan yang diambil dari pengalamannya yang terkumpul. Sedangkan George Santayana merumuskan bahwa keindahan adalah kesenangan yang dianggap sebagai sifat dari suatu benda.

Sampai pada era postmodern, konsep mengenai keindahan bukan lagi menjadi sesuatu yang penting untuk diperdebatkan. Bahkan Jean Francois Lyotard, pemikir dari Perancis memaknai bahwa postmodernisme menyajikan dengan menolak pesona bentuk-bentuk yang indah namun cenderung mencari bentuk- bentuk penyajian baru serta tidak untuk menikmatinya, tetapi untuk membangkitkan perasaan ketidakmungkinan dalam penyajian tersebut.

Perlukah sebuah keindahan dinamai? Dimaknai? Atau digambarkan secara definitive? Lalu bagaimana pula memperbincangkan karya seni yang indah? Bukankah kita dengan memaknai keindahan itu sendiri dapat terjebak dalam ambiguitas. Sebuah rasa tentang sesuatu itu indah kini tidak dapat lagi menjadi patokan objektif menilai karya seni.

Keindahan adalah kenikmatan yang tergambar setelah melakukan, mengalami atau menemukan bentuk. Dalam perspektif tertentu, bukankah keindahan adalah ekstase yang menjalar dalam tubuh? Antara berhenti atau terus melakukan penelusuran – penelusuran.

Image

Karya Jean – August Dominique Ingrea , Grande Odalisque

Perkembangan hiperealitas yang pesat membuktikan seolah-olah tubuh hanyalah bagian kecil dari struktur bangun yang kompleks. Berkembangnya ruang – ruang imajiner, fantasi dan ilusi menjadikan permasalahan baru dan menjadikan batas antara tubuh dan objek-ojek sekitar  semakin menipis ( karena bersatu dalam komoditi ).

Makna estetik semakin beragam, tubuh tidak lagi menjadi penikmat, tetapi juga pemberi nikmat. Semua telah cair, bahkan dalam wacana kapitalisme mutakhir, keindahan dapat disepadankan dengan kesenangan . Irama kesenangan dan penampakan tubuh menjadi satu dalam hukum-hukum komoditas.

Bagaimana dengan pornografi, atau ada sebagian orang mencoba mempersepsikan dan membedakan sebagai “ seni telanjang “. Bahkan sampai kini orang masih saja memperkarakan pornografi sebagai biang kerok kemerosotan moral masyarakat kita, namun di sisi lain aksi penumpasannya juga mengalami kegagalan.

Terbukti masih banyak akses yang dapat dihubungi, diakui atau tidak, pornografi telah menawarkan sebongkah keindahan yang sangat menakjubkan bagi penggemarnya. Dengan berbagai medianya, pornografi berhasil menerobos ruang pikiran manusia dan menghasilkan sebentuk kenikmatan yang maha akut.

Dalam persoalan ini, konsep keindahan menjadi sangat berhubungan dengan pemenuhan hasrat, libido dan kegandrungan dasar manusia, bukan berhubungan dengan moralitas. Untuk itulah perdebatan antara seni dan pornografi takkan pernah selesai, karena perbedaan yang cukup signifikan terhadap makna dan esensi keindahan pada setiap diri penonton.

Maka jika mengembalikan konsep keindahan dalam persoalan yang lebih spesifik ( misalnya dalam setiap individu ) kita tak bias melepaskan diri dalam nilai-nilai lainnya.Seperti Religi, etika, intelektual serta menyertai dan berkaitan dengan filsafat, ilmu dan seni yang kemudian menjadi unsure pembentuk konsepsi eksistensi manusiawi.

Feminisme Radikal

Aliran ini menawarkan ideology “ perjuangan separatism perempuan “. Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi social berdasarkan jenis kelamin di Barat tahun1960-an. Utamanya adalah melawan kekerasan seksual dan industry pornografi.

Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat system patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki.Feminisme Radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas ( termasuk lesbianism ), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki dan dikotomi privat –publik

“ The Personal is political “ menjadi gagasan anyar yang dapat menjangkau permasalahan perempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan.

Kindahan dalam karya seni  berkaitan dengan konsep feminism radikal dapat ditemui salah satunya seperti Karya Tom Wesselmen , Nude #92, 1967.

Image

Penggambaran simbol-simbol terlarang menjadi industry pornografi ( yang dulu susah diperlihatkan ), kini dapat ditemui, dilepas, ditonton, diperlihatkan sehingga masyarakat ddapat melihatnya.

Sekali lagi pornografi telah membuka sebuah kecenderungan melahirkan konsepsi keindahan yang mencengkram banyak orang. Daripada sekedar keindahan yang “ santun “ seperti pada karya seni adiluhung lainnya.            Memperdebatkan pornografi sama dengan memperdebatkan esensi keindahan itu sendiri, sama halnya dengan perdebatan individu.

Keindahan dalam pornografi tiba-tiba saja memiliki banyak ukuran, kadang bergantung pada lingkungan komunitas masyarakatnya, kadang terpaku pada kenikmatan inderawi, dan kadang juga dipaksa oleh konvesi tertentu. Persoalan tentang nilai-nilai estetika pada setiap karya seni menjadi konsekuensi masing –masing pihak.

Berbagai media yang menyuguhkan ketelanjangan tubuh baik perempuan atau pria, dapat disangka telah meleburkan persoalan seni ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Foto-foto porno, lukisan nude atau gambar lainnya dikonsumsi dalam taraf tertentu , banyak dipersepsikan seagai salah satu bentuk kesenian.

Sebutlah blue film adalah hasil dari kecanggihan ide seni film, Playboy atau sejenisnya adalah hasil kecemerlangan ide dari seni foto dan sebagainya. Maka bagi masyarakat penggemar pornografi, keindahan yang muncul di sana lebih banyak merupakan hasil kemasan tubuh yang terkomodifikasi dengan cara-cara tertentu termasuk karya seni lukis.

Berkaitan dengan karya seni konteksnya terhadap konsep feminism radikal, terdapat konsep yang melahirkan berbagai asas tentang keindahan ( aesthetic form ) seperti dibahas oleh Witt H. Parker dalam The Analisys of Art, mengenai ciri-ciri umum dari bentuk estetik menjadi 6 asas :

  1. The Principle of Organic Unity ( Asas kesatuan organis )
  2. The Principle of Theme ( Asas Tema )
  3. The Principle of Thematic Variation ( Asas Variasi menurut Tema )
  4. The Principle of Balance ( Asas Keseimbangan )
  5. The Principle of Evolution ( Asas Perkembangan )
  6. The Principle of Hierarchy ( Asas Tata Jenjang )

Dari beberapa pengertian mengenai keindahan, bukankah manusia telah jauh meninggalkan realitas  dalam mencari keindahan, yang lebih dari sekedar keindahan kasat mata. Apa pengertian keindahan diatas dapat diterima ketika seseorang telah berada dalam sebuah keindahan hiperrealitas?

Bukankah keindahan yang telah terumuskan juga akan menjadi pagar pembatas kreativitas bagi seniman yang memiliki kecenderungan “ liar dan nakal “ atas konvensi yang telah dirumuskan pada keenam asas tadi?.

Oleh karena itu,  feminism radikal memperkarakan keindahan memiliki cara yang sangat berbeda, karena bergantung pada tingkat eksistensinya masing-masing. Eksistensi perempuan adalah cara berada yang khas dari wanita itu sendiri, saling berkaitan antara filsafat, ilmu dan seni ( intelektualitas ), bukan lagi membahas persoalan-persoalan privat yang diekspos ke dalam media.

Jenis eksistensi ini tidak dinikmati dan tidak dapat ditiru  oleh setiap manusia atau semua jenis mahluk lainnya. Semua manusia mempuyai eksistensi social yang sama dengan manusia, tetapi hanya manusia yang memiliki kekhasan dan menjalani eksistensi manusiawi pula. Eksistensi ini kemudian membentuk perilaku dalam bercitarasa keindahan dan berkehidupan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Jaeni B. Wastap, 2011,Teori-Teori Kritis, DIPA STSI, Bandung.

Louis Fichner-Rathus, Understanding Art, 1994, : Prentice Hall, Englewood Cliffs , New Jersey.

Mikke Susanto, 2003, Membongkar Seni Rupa, Buku Baik, Yogyakarta.

The Liang Gie, 1997, Filsafat Keindahan, , Pusat Belajar Ilmu Berguna, Yogyakarta.

Rosemarie Putnam Tong,  2006, Feminist Thought, , Jalasutra, Yogyakarta.

Yasraf Amir Piliang, 1998, Sebuah Dunia yang Dilipat , Mizan, Bandung.

Kajian Batik Kawung

UTS – Prof. Drs. Jakobus Sumardjo – Filsafat Seni

POLA    LIMA   DALAM   BATIK     KAWUNG

Pola limaadalah kategori etika, bersumber dan system kepercayaan religinya, sehingga kebudayaan pra modern polalimamasuk kategori budaya mistis-spiritual. Batik kawung yang dipergunakan  untuk melayat jenazah, mengandung symbol  angka empat dalam kebudayaan suku jawa, mengandung falsafah asal muasal kehidupan manusia  ( Kiblat Papat Lima Pancer ).

Semua hal dipola berdasarkan mancapat kalimo pancer, baik alam rohani, alam semesta ( jagad besar ), manusia ( jagad kecil ), budaya ( Negara, seni, teknologi, ekonomi ). Mancapat Kalimo Pancer adalah paradigm hubungan Tunggal dan Plural.

Tunggal adalah pusat ( Titik Tengah ) dan plural adalah pengikut, saudara, keluarga, anggota dan pusat, inilah Dwitunggal. Kawulo – Gusti, tunggal adalah paradox karena merupakan sintesa dari angota-anggotanya yang plural dan dualistic.

Pengaturan ini menghadirkan yang transenden ( rohani, ilahi, kedewaan ) ke dunia imanen ( materi, duniawi, manusiawi ) atau  membuat yang imanen menjadi transenden. Gerak memusat dan menyebar ada pada batik kawung, dalam gerak memusat, yang imanen menuju pusat, Tunggal, yang transenden.

Inilah “ Jalan ke atas “ manunggaling kawulo dengan Gustinya. Dalam zaman Hindu – Budha jalan ini mengikuti gerak pradaksina atau arah jarum jam. Sedangkan gerak menyebar , yang transenden menyebar mengaliri atau menjadi pasangan- pasangan antagonistic imanen.

Inilah “ Dari Atas Ke Bawah “ Gusti Manunggal dengan kawulonya, arah geraknya mengirikan pusat atau berbalikan dengan arah jarum jam.

BATIK KAWUNG DALAM FALSAFAH JAWA

Kebudayaan suku jawa merupakan kebudayaan tertua yang ada diindonesia, hadirnya berbagai kerajaan yang berdiri kokoh di masa lampau merupakan salah satu bukti yang berbicara bahwa kebudayaan suku jawa sudah ada sejak lama, jauh sebelum modernisasi mengenai kehidupan masyarakat jawa seperti sekarang ini.

Setiap peradaban yang pernah lestari di bumi selalu meninggalkan warisan simbol-simbol

Yang menjadi bukti eksistensi. Simbol-simbol tersebut pada masanya bias menjadi merupakan media komunikasi. Entah komunikasi kepada sesama manusia atau dengan Tuhannya. Begitupun yang terjadi pada kebudayan suku jawa.

Kebudayaan suku jawa melintasi waktu yang teramat panjang, banyak simbol yang dimiliki   dan tetap bertahan sampai sekarang. Dengan simbol itu komunikasi masa lalu dikirim dengan akurat kepada masyarakat modern, sehingga mereka dapat mengetahui makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Pada perkembangannya batik mengalami perkembangan yang berkenaan dengan motif dan corak. Motif dan corak batik itu sendiri diciptakan dari proses yang cukup panjang, sebuah proses wajar yang memang sering terjadi pada sebuah kebudayaan suku Jawa.

Batik Kawung  merupakan batik tertua, jika diperhatikan  motif batik kawung ini memiliki irama  dalam repetisi  pola lingkaran  geometris yang saling berisikan. Mengambil  bentuk dasar buah aren ( kawung ) yang distilasi dalam bentuk segiempat simetris. Angka empat dalam kebudayaan suku jawa, mengandung falsafah asal muasal kehidupan manusia  ( Kiblat Papat Lima Pancer ).

Bentuk dasarnya berupa lingkaran oval yang hampir menyentuh satu sama lain dengan simetris, yang diperhatikan jika seksama menimbulkan ilusi optik dengan munculnya bentuk bunga kelopak. Masing –masing kelopak membentuk runcing ramping.

Dinamakan batik kawung karena motif yang dipakai merupakan stilasi dari penampang buah aren ( kawung ). Aren sebagai penghasil gula yang meyimbolkan rasa manis , memiliki filosofis keagungan, dan kebijaksanaan. Pohon yang lurus tanpa cabang melambangkan keadilan, karena itu motif batik kawung memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi tentang kekuasaan yang adil dan bijaksana.

Bunga empat kelopak dianggap representasi dari lotus ( bunga teratai ). Bunga dalam falsafah jawa kuno mengandung makna kesucian , sementara stilasi bunga dan buah secara umum memiliki makna kesuburan dan harapan.

Batik kawung mengandung falsafah kehidupan yang sangat dalam dan suci tentang asal muasal penciptaan manusia. Umur  panjang yang dimaknai  sebagai perjalanan menuju kehidupan yang abadi. Karena itulah maka dalam beberapa tradisi jawa , Batik Kawung digunakan untuk menyelimuti jenazah . Sebagai perlambang perjalanan panjang menuju keabadian yang sedang ditempuh roh.

Empat unsur bunga kawung yang saling beririsan simetris dengan menyisakan ruang kosong di titik pusat, dimaknai juga sebagai kiblat papatlimapancer, falsafah adiluhung Jawa yang bermakna : memandang dari segi empat perspektif mata angin untuk  mendapatkan cahaya  ( pancer ) kebijaksanaan.